Bahkan, sekalipun itu Wahabi. Ya, bukan tidak mungkin ada Wahabisme Nusantara–Wahabi watak Nusantara yang damai dan santun, tidak provokatif dan takfiri. Beberapa tokoh Wahdah Islamiyah, misalnya, dalam taktik dakwahnya nampak berupaya menyesuaikan diri dengan memakai batik dan memberi kajian kitab-kitab Syafi’iyah. Ya, meski pada kenyataannya mereka tidak bermazhab, dan cenderung melawan pengamalan tradisi-tradisi Islam khas Nusantara.
NU yang menyuarakan Islam Nusantara juga paham akan hal sederhana ini, makannya pada Mukmar NU di Jombang, tahun 2015, tema yang diangkat adalah; Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Artinya, Islam Nusantara itu untuk peradaban Indonesia dan dunia, bukan semata hanya untuk identitas NU saja. Ini term yang menggambarkan kekhasan dan keragaman pengamalan masyarakat Muslim di Nusantara.

Kesadaran Keberagaman
Di tengah keragaman Islam Nusantara, sikap sebagai “si paling” menjadi satu masalah yang rentan menjebak kita pada truth claim (klaim kebenaran). Memandang cara berislam sendiri, baik kelompok masyarakat maupun ormas, sebagai yang paling Nusantara dan yang lain adalah keliru. Alhasil, yang nampak bukan menghidupkan kearifan tradisi, yang ada malah penghakiman terhadap mereka yang berbeda.
Kesadaran adanya keberagaman adalah penting dalam menyikapi problem si paling ini. Kita perlu sadar bahwa Islam Nusantara itu memang beragam. Saya jadi ingat pandangan Charles J. Adams, dalam “Islamic Religious Tradition,” bahwa “…Islam cannot be one thing but rather is many things (Islam tidak dapat menjadi satu hal tapi lebih tepatnya menjadi banyak hal).” Ya, realitasnya memang demikian. Pengamalan Muslim dalam menjalankan agama Islam sangat beragam.
Maka dalam keragaman Islam Nusantara, penting untuk punya kesadaran kalau bukan hanya ada pengamalan Islam kita saja, namun ada juga ekspresi pengamalan Islam Nusantara dari masyarakat atau kelompok Islam yang lain. Malah jadi ingat judul bukunya Gus Dur; Islamku, Islam Anda, Islam Kita.

Ajiib.. 👏🏼👍🏼