Bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh ashhabu al-sabt adalah mereka tetap bekerja pada hari Sabtu, sedangkan di hari tersebut mereka bersepakat untuk hanya beribadah kepada Allah.
Tidak semua kaum pada masa tersebut melakukan pelanggaran. Kaum tersebut terbagi menjadi tiga, yaitu golongan para pelanggar, golongan yang menasihati para pelanggar, dan golongan yang acuh (Shihab, 2006: 285).

Dalam riwayat dijelaskan bahwa sudah begitu banyak nasihat yang disampaikan kepada kaum pelanggar, tetapi mereka tidak mau mendengarkannya. Sehingga, pada puncaknya, mereka lupa akan peringatan yang disampaikan. (Shihab, 2006: 285). Pada akhirnya, setelah melakukan pelanggaran di hari Sabtu, mereka dikutuk oleh Allah menjadi kera. Sebagaimana dalam firman-Nya,
كُوۡنُوۡا قِرَدَةً خٰسِـٮِٕیْنَ
“Jadilah kamu kera yang hina.”
Analisis Hermeneutika Dithley
Sebelumnya, penulis ingin menjelaskan secara singkat bagaimana konsep Hermeneutika Wilhelm Dilthey. Wilhelm Christian Ludwig Dilthey (1833-1911) merupakan tokoh heremeneutik yang mengacu kepada tokoh lain yaitu Schlermacher.
Bagi Dilthey, tujuan hermeneutika adalah sebagai geisteswissenchaften, yaitu dasar bagi ilmu-ilmu sosial humanistis yang memahami ekspresi batin manusia dari persepektif psikologis maupun historis.
Dilthey mempertemukan corak positivisits dan idealis dalam pemikirannya. Fenomena postivistis bagi Dilthey perlu dikelola menjadi fenomena sejarah yang terstruktur dan logis, bukan sekadar membentuk pola abstrak.
Formula yang diberikan Dilthey meliputi erlebnis, ausdruck, dan verstehen. Erlebnis digambarkan dengan pengalaman yang meninggalkan kesan dalam kehidupan seseorang. Ausdruck merupakan gagasan dari pengarang, bukan ekspresi secara kolektif. Verstehen adalah cara untuk mengolah data dari erlebnis dan ausdruck. (Hardiman, 2015: 85).
Untuk lebih memahami secara rigid perihal kisah ashhabu al-sabt, penulis akan membagi cerita tersebut menjadi dua divisi. Divisi pertama, yaitu pembahasan tentang kronologi pelanggaran. Sedangkan, divisi kedua, yaitu peristiwa pengutukan Tuhan kepada mereka menjadi kera.
Divisi I (Pelanggaran Perjanjian). Kisah ashhabu al-sabt terdapat dalam beberapa ayat, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Dalam divisi kisah yang pertama ini, penulis akan memnjadikan QS. al-Baqarah: 65 sebagai data primer dalam penjabaran kisah ashhabu al-sabt.
“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka: Jadilah kamu kera yang hina”
Dalam menelaah ayat tersebut menggunakan hermenutika Dilthey, perlu pengimplementasian formulasi hermeneutikanya secara hati-hati. Pertama, yaitu dengan formula ausdruck. Dalam proses ini kita diajak untuk menggali lebih lanjut perihal pelanggaran yang dilakukan oleh ashhabu al-sabt, yaitu berbentuk pengingkaran terhadap janji yang telah disepakati dengan Allah SWT.
Mereka tidak memuliakan hari Sabtu dengan tetap mencari ikan. Padahal, seharusnya mereka memfokuskan hari Sabtu sebagai waktu untuk beribadah kepada Allah SWT. Sedangkan, mereka malah memasang perangkap di hari Sabtu dengan dalih banyak ikan yang berdatangan pada hari tersebut.
