Sedangkan, formulasi kedua yang harus diguakan adalah erlebnis. Dalam proses ini, peristiwa perjanjian antara ashhabu al-sabt dengan Allah memunculkan pertanyaan. Bagaimanakah cara Allah dan mereka melakukan perjanjian? Sedangakan Allah tidak menampakkan diri-Nya. Bagaimana pelanggaran tersebut terjadi? Dan Kapan kisah tersebut berlangsung?
Dalam formulasi yang ketiga, yaitu verstehen, maka kita bisa mengambil pemahaman akan, 1) karakter ashhabu al-sabt yang picik sehingga mereka dikutuk menjadi kera; 2) bahwa proses pemberian hari Sabtu sebagai hari mulia terjadi pada masa Nabi Musa. Sedangkan, pelanggaran yang mengakibatkan mereka dikutuk terjadi pada masa Nabi Daud as, sebagiamana yang terterapada QS. al-Maidah: 78.

Memahami prosedur perjanjian Allah dengan ashhabu al-sabt, yaitu melalui kesepakatan dengan Allah, dan diperantarai oleh Nabi Musa. Esensi dari kutukan tersebut ialah bahwa kutukan menjadi kera merupakan hal yang hina. Apabila kera berperangai seperti kera, maka hal itu sangatlah lumrah. Namun, jika manusia berperangai layaknya kera, maka hal tersebut menjadi kecacatan yang nyata. Maka kehinaan itulah yang didapatkan oleh ashhabu al-sabt.
Divisi II (Kutukan kera bagi para pelanggar). Setelah dijelaskan perihal analisis hermeneutika Dilthey terhadap kisah penyebab ashhabu al-sabt melakukan pelanggaran, latar waktu, teknis perjanjian, dan fenomena pelanggaran tersebiut, maka pada pembahasan ini, akan dipaparkan mengenai hakikat kutukan yang dilancarkan Tuhan kepada mereka. QS. al-A’raf ayat 163 menjadi data primer dalam penelaahan ini.
Dalam tahap pertama, ausdruck, kita mencoba untuk mengungkap ekspresi batin mereka secara sadar, yang terefleksikan dengan muslihat yang mereka lakukan dan respons Kaum Yahudi lain. Ashhabu al-sabt melakukan helat agar tetap mampu menangkap ikan di hari Sabtu.
Sedangkan, dalam proses erlebnis, kita mampu memunculkan pertanyaan, “Apa yang menjadi penyebab kedurhakaan mereka kepada Allah?” dan “Apakah kutukan kera itu ditimpakan kepada seluruh umat Yahudi?”
Dalam proses verstehen, kita bisa menganalisis premis-premis tersebut dan menghasilkan beberapa fakta. Kaum Yahudi, pada mulanya, diperintahkan untuk mengkhususkan hari Jumat, akan tetapi mereka memilih hari Sabtu. Pada hari Sabtu tersebut, Allah memberikan ujian bagi mereka untuk meningkatkan kualitas keimanan mereka.
Bentuk ujian tersebut adalah dengan mendatangkan banyak ikan di hari Sabtu. Penangkapan ikan di hari Sabtu, tidak dilakukan sekali-dua kali, melainkan beberapa kali. Karena tidak ada hukuman yang menimpa mereka ketika menangkap ikan, maka semakin banyak orang yang ikut menangkap ikan bahkan menjual ke pasar secara terang-terangan. Indikasinya, bahwa masyarakat yang tetap menangkap ikan di hari Sabtu tidak merepresentasikan sebagai kaum yang taat kepada Allah.
Akhirnya, dengan membawa konsep hermeneutika Dilthey dalam analisis kisah ashhabu al-sabt, kita mendapatkan uraian yang komprehensif secara historis. Alat interpretatif dari Dilthey ini mampu membawa kita kepada pemahaman, “Siapa sebenarnya sosok ashhabu al-sabt ini.”
Daftar pustaka
Akmaldin, Noor Al-Qur`an Tematis: Kisah-Kisah Dalam Al-Qur’an 2. Jakarta. Yayasan 20 SIMAQ. 2010.
al-Qaththan, Manna’. Mabâhis fi Ulûm al-Qur’ân. Riyadh. Maktabah Ma’arif. 2015.
Al-Thabari. Tafsir al-Thabari (Terj.). Juz 11. Abdul Somad (Pen.). Jakarta. Pustaka Azzam. 2008.
Hardiman, F. Budi. Seni Memahami. Yogyakarta. Kanisius. 2015.
Nasution, Harun Islam Rasional. Bandung. Mizan. 1998.
