Membaca Sang Humanis: Gus Dur dalam Cerita Gus Mus

Seperti kata Buya Husein dalam buku ini bertanya dengan penuh penasaran ketika Gus Mus selalu menyebut nama Gus Dur dalam percakapannya. Tentu, penyebutan nama itu juga sering diuacapkan oleh semua orang. Mengapa Gus Dur disayangi semua orang? Karena Gus Dur menyayangi semua orang.

Dalam buku ini, kita akan disuguhkan tentang kisah-kisah Gus Dur yang belum diketahui banyak orang. Kisah-kisah itu adalah proses perjalanan Gus Dur selama menjadi Mahasiswa di Al-Azhar Kairo. Kisah lucu yang dialami sahabatnya Gus Mus saat bersama Gus Dur, yang mana Gus Mus adalah teman sekamar-tidurnya saat kuliah di Mesir. Disertai juga cerita keanehan-keanehan dalam diri Gus Dur. Misalnya, Gus Dur dianggap memiliki ilmu laduni, seperti kisah tidurnya Gus Dur saat rapat, yang dengan spontan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari peserta lain seakan dari awal dia menyimak rapat. Meskipun hal itu bersifat di luar nalar manusia biasa, namun kenyataannya Gus Dur adalah seorang pembaca tekun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Gus Dur yang besar di lingkungan pondok pesantren dan merupakan cucu dari KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), membuat Gus Dur memegang erat prinsip-prinsip keagamaannya. Dalam buku ini diceritakan dalam “Tarekat dan Amalan Gus Dur” (hal: 97). Membaca ini membuat saya bertanya-tanya, apa yang membuat Gus Dur menjadi orang yang humanis, berani, dan memiliki pemikiran yang kosmopolitan?

Dalam cerita tersebut, Buya Husein dalam obrolannya bertanya kepada Gus Mus. Gus Mus menjawab: Gus Dur kesenangannya adalah membaca, dia akan membaca apa saja dan di mana saja (Gus Dur selalu membawa buku ke manapun dia pergi) yang menurutnya penting; seperti buku keagamaan (kitab kuning), filsafat, politik, sosial, ekonomi, sastra, dsb. Dengan bacaannya yang luas itu, Gus Dur kemudian menjadi penulis produktif yang banyak menghasilkan karya baik berbentuk buku maupun artikel.

Selain itu, Gus Dur selalu menjalani kehidupannya dengan spiritualitas. Kedekatannya dengan Tuhan membuat dia berani kepada siapapun yang berbuat salah. Diceritakan dalam buku ini, Gus Dur setiap harinya selalu membaca selawat kepada Nabi sebanyak 1.000 kali. Dia juga selalu menyempatkan dirinya untuk berziarah ke makan waliyullah ketika berkunjung ke sebuah daerah atau kebetulan melewati daerah yang terdapat makan para wali. Maksud kedatangannya tidak lain untuk berziarah, melakukan aktivitas zikir dan mendoakannya.

Tinggalkan Balasan