Membaca Setting Politik Menjelang Pewahyuan Qur’an (1)

Ekspedisi ini (Al-Quran surat 105) pada prinsipnya memiliki tujuan yang secara sepenuhnya berada di dalam kerangka politik internasional ketika itu, yaitu upaya Bizantium untuk menyatukan suku-suku Arab di bawah pengaruhnya guna menentang Persia. Sementara para sejarawan Muslim menambahkan tujuan lain untuknya. Menurut mereka, ekspedisi tersebut terjadi kira-kira pada 552 M, dimaksudkan untuk menghancurkan Ka’bah dalam rangka menjadikan gereja megah di San’a, yang dibangun Abrahah, sebagai pusat ziarah keagamaan di Arabia.

Upaya kedua imperium adikuasa itu dalam rangka memperoleh kontrol politik atas Jazirah Arabia biasanya dilakukan secara tidak langsung, seperti dengan jalan mendukung penguasa-penguasa menuju keperbatasan kawasan tersebut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kontrol politik Persia atas sejumlah kota kecil di pesisir timur dan selatan Arabia, misalnya, diperoleh dengan mendukung kelompok-kelompok politik pro-Persia di daerah-daerah tersebut. Suatu insiden yang terjadi di Mekkah sekitar 590 M (biasanya dikaitkan dengan nama Ustman bin al-Huwairits) dapat dilihat sebagai usaha Bizantium untuk memperoleh kontrol politik atas kota itu dengan jalan membantu orang yang pro. Bizantium ini menjadi penguasanya. Tetapi, orang-orang Mekkah terlihat tidak berminat menjadi bawahan salah satu adikuasa dunia. lantaran implikasi politiknya, dan orang dukungan Bizantium itu dipaksa kabur dari kota mereka.

Pada permulaan abad ke-7, Persia mencatat serangkaian kemajuan berarti dalam upaya perluasan pengaruh politiknya. Pada 611 bala tentaranya berhasil menaklukkan kota Raha, kemudian bergerak ke selatan dan menundukkan satu demi satu wilayah Imperium Bizantium. Siria jatuh ke tangannya pada 613, menyusul Yerusalem pada 614, dan Mesir pada 617. Bahkan, pada 626 pasukan Persia mengepung Konstantinopel, meskipun berlangsung sangat singkat dan tidak membawa hasil. Namun, penjarahan Yerusalem yang dilakukan setelah suatu pemberontakan terhadap garnisun Persia, pembantaian penduduk kota tersebut dan dibawa larinya benda yang dipandang sebagai salib suci, telah membangkitkan emosi keagamaan orang-orang Kristen di seluruh wilayah Imperium Bizantium.

Kejadian ini tentunya sangat kondusif bagi Heraclius, salah satu penguasa tertinggi Bizantium ketika itu untuk menggalang kembali kekuatan militernya. Setelah menghadapi orang-orang Avar yang menyerang Konstantinopel dari utara, pada 622 Heraclius memusatkan perhatian untuk menghadapi Persia. Suatu invasi yang berani ke Irak dilakukannya pada 627.

Walaupun balatentara Bizantium segera ditarik mundur setelah penyerbuan itu, namun ketegangan-ketegangan yang muncul di dalam negeri Persia, akibat peperangan berkepanjangan, mulai terasa. Kurang lebih setahun sebelumnya, Khusru II, penguasa Persia waktu itu dibunuh dan penggantinya yang memiliki banyak musuh di dalam negeri lebih menginginkan perdamaian. Peperangan akbar antara kedua imperium adikuasa ini pun berakhir. Negosiasi penyerahan propinsi-propinsi Bizantium yang direbut Persia berjalan berlarut-larut hingga pertengahan 629. Akhirnya, pada penghujung tahun itu Heraclius kembali ke Konstantinopel dengan kemenangan di tangan.

Perebutan kekuasaan yang berkepanjangan antara Bizantium dan Persia, seperti telah diutarakan, mendapat perhatian serius dari orang-orang Arab ketika itu, lantaran relevansi politiknya yang nyata terhadap mereka.

Tinggalkan Balasan