Membaca Setting Politik Menjelang Pewahyuan Qur’an (1)

Tentang perebutan kekuasaan kedua adikuasa tersebut, Al-Quran menuturkan: Telah dikalahkan bangsa Romawi di negeri terdekat yang setelah kekalahan itu mereka akan memperoleh kemenangan dalam beberapa tahun lagi. (30:2-4).

Bagian awal pernyataan ini merujuk kepada serangkaian kekalahan yang dialami Bizantium pada permulaan abad ke-7, khususnya pendudukan Yerusalem oleh balatentara Persia. Sementara, bagian selanjutnya merupakan prediksi tentang kemenangan akhir Bizantium atas Persia pada perempatan kedua abad yang sama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kehidupan di Jazirah Arab

Risalah yang dibawa Muhammad memiliki keterkaitan yang erat dengan milieu (lingkungan) dunia perniagaan masyarakat perkotaan Arab ketika itu. Tanah air pertama Islam, Mekkah, merupakan pusat perniagaan yang sangat makmur. Sementara tanah air keduanya Yatsrib atau Madinah adalah oase kaya yang juga merupakan kota niaga, sekalipun tidak sebesar Makkah. Meskipun Madinah memiliki peran sentral yang amat vital dalam evolusi eksternal misi kenabian Muhammad, namun milieu komersial Makkahlah yang tampaknya paling mendominasi ungkapan-ungkapan Al-Quran.

Pada penghujung abad ke-6, para pedagang besar kota Mekkah telah memperoleh kontrol monopoli atas perniagaan yang lewat bolak-balik dari pinggiran pesisir barat Arabia ke Laut Tengah. Kafilah-kafilah dagang yang biasanya pergi ke selatan di musim dingin dan ke utara di musim panas, dirujuk dalam Al-Quran (106:2). Rute ke selatan adalah ke Yaman, tetapi biasanya juga diperluas ke Abisinia. Sementara rute ke utara adalah ke Siria. Di tangan kafilah- kafilah dagang inilah, orang-orang Makkah mempertaruhkan eksistensinya yang asasi. Di lembah kota Mekkah tandus, pertanian maupun peternakan adalah impian indah di siang bolong. Kota ini sangat bergantung pada impor bahan makanan. Karena itu, kehidupan ekonominya yang khas adalah di bidang perniagaan yang dan kemungkinan besar hanya bersifat moneter.

Perdagangan dan urusan-urusan finansial yang bertalian dengannya menjanjikan satu-satunya penghasilan bagi penduduk kota Mekkah. Bahkan, secara ekonomis, hampir setiap orang menaruh minat yang besar pada kafilah-kafilah dagang. Penjarahan atas suatu kafilah ataupun musibah lain yang menimpanya merupakan pukulan berat dan bencana bagi penduduk kota tersebut. Itulah sebabnya, supaya keamanan kafilah-kafilah terjamin, orang-orang Quraisy harus melakukan negosiasi dengan negara-negara tetangganya dan menjalin hubungan baik dengan suku-suku pengembara di berbagai bagian rute perniagaan.

Empat bersaudara anggota suku Quraisy dari keluarga Abd al-Manaf, Hasyim, al-Muthalib, Abd al-Syams dan Naufal, dikabarkan telah memperoleh jaminan keamanan dari penguasa-penguasa Bizantium, Persia, Abisinia dan Himyari. Hasyim dilaporkan memperoleh jaminan keamanan dari sejumlah penguasa, termasuk dari Qayshar Bizantium; al-Muthalib juga memperoleh perjanjian yang sama dari penguasa Yaman; Abd al-Syams mendapatkannya dari penguasa Abisinia; dan Naufal memperolehnya dari Kisra Persia. Jaminan keamanan sejenis juga diperoleh dari suku-suku Arab disepanjang perjalanan keempat bersaudara anggota suku Quraisy itu. Jadi, bisa dikatakan bahwa imperium niaga orang-orang Makkah dalam kenyataannya dibangun keluarga Abd al-Manaf lewat pakta-pakta perniagaan mereka.

Tinggalkan Balasan