Ada beberapa pertanyaan yang muncul kemudian, kenapa Kiai Sholeh Darat dalam menuliskan teks-teks keislaman kebanyakan menggunakan aksara pegon, bukan bahasa Arab? Bukankah beliau sempat tinggal lama di Mekkah?
Di abad ke-19, ada tiga ulama besar di Mekkah yang terkenal dengan karyanya, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani, Syekhona Kholil Bangkalan, dan Kiai Sholeh Darat. Akan tetapi, Syekh Nawawi al-Bantani dan Syekhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai pengarang kitab yang ditulis dengan bahasa Arab, beda halnya dengan Kiai Sholeh Darat.

Pada abad ke-19, kondisi masyarakat Jawa masih sangat awam dan tingkat pemahaman terhadap agama Islam tergolong rendah. Hal ini dipengaruhi dengan penjajahan yang merajalela. Rezim penjajah kala itu mengawasi ketat pemikiran pribumi, termasuk tingkat pemahaman warga pribumi terhadap agamanya sehingga meraka mengekang masyarakat pribumi untuk mendalami Islam.
Atas dasar itulah, Kiai Sholeh Darat membuat sebuah media dan strategi dakwah dengan cara mentransformasikan Islam ke dalam konteks bahasa lokal. Dengan aksara pegon, beliau berharap masyarakat Jawa bisa lebih mudah dalam memahami ajaran-ajaran agama Islam.
Tercatat, di halaman 149 buku ini, disebutkan ada sekitar 12 kitab karya Kiai Sholeh Darat yang masih bisa diselamatkan dan terus dicetak secara masif, dikaji, dan diteliti. Berikut nama-nama kitabnya: Kitab Munjiyat, Matan al-Hikam, Majmu’ah Syari’ah al-Kafiyah lil ‘Awam, Lathaif at-Thaharah wa Asrar as-Shalah, Manasik al-Hajj Wa al-Umroh, Kitab Fasholatan, Sabil al-‘Abid ‘ala Jauharat at-Tauhid, al-Mursyid al-Wajiz, Hadits al-Mi’roj, Kitab al-Mahabbah wa al-Mawaddah fi Tarjamah Qaul al-Burdah fi al-Mahabbah wa al-Madh ‘ala Sayyidil Mursalin, Faidh ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Malik ad-Dayyan, Minhaj al-Atqiya’ fi Syarh Hidayat al-Atqiya’ ila Thariq al-Auliya’.
Terakhir, tentu jasa besar Kiai Sholeh Darat dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam tak bisa terlupakan. Sebab, dengan karya-karyanya masyarakat Jawa semakin banyak tahu tentang Islam sampai ada ungkapan dari sebagian orang bahwa seandainya tidak ada Kiai Sholeh Darat, bisa jadi masyarakat Jawa tidak akan memahami ajaran Islam dan tidak akan mengamalkan ritual-ritual keislaman.
Pernyataan semacam ini dapat dipahami bahwa sumbangsih pemikiran dan dakwah Kiai Sholeh Darat melalui kitab-kitab beraksara pegon dan berbahasa Jawa itu mempunyai dampak yang cukup besar terhadap pemahaman masyarakat Jawa terhadap Islam.
Data Buku
