Tak heran jika sebagian mereka ketakutan dengan spirit Islam yang dibangun oleh para ulama Jawa. Mereka takut dengan Islam sebagai motivator persatuan bangsa kita atau pun sebagai pemupuk ide nasionalisme ekonomi kita. Mereka dengan fasih memberikan analisa data dengan dibumbui informasi yang diklaim rasional, faktual, dan ilmiah dengan sandaran pada penalaran positivistik yang berlaku di Eropa (hlm 12).
Misalnya, buku Ricklefs yang berjudul Polarising Javanese Society, menguraikan betapa saratnya kepentingan yang dibungkus di dalamnya. Di sana akan kita temukan analisis berbisa bak racun dibungkus klaim ilmiah tentang periode krusial keberislaman dan kenusantaraan kita, yaitu Islam yang dibawa para wali itu adalah bencana peradaban bagi orang Jawa.

Ditambah lagi dalam catatan berikutnya, bahwa kajian-kajian tentang kiprah para wali dan sejarah awal Islamisasi di Nusantara selama ini masih diliputi praduga-praduga yang tidak ilmiah. Wali Songo dianggap sebagai mitos dan penuh dengan legenda irasional. Karya-karya babad dan hikayat dianggap penuh khayalan bahkan karya tentang Wali Songo yang ditulis oleh orang Indonesia dianggap sebagai cerita yang tidak jauh dari kehidupan kita sehari-hari (hlm 14).
Terlepas dari konstestasi konsep Wali Songo, Ahmad Baso menawarkan sejumlah dekontruksi gagasan yang dibawa oleh orang luar tentang Wali Songo seperti yang sduah saya jelaskan di atas. Baso juga memberikan afirmasi konseptual tentang Islam Nusantara.
Islamisasi Nusantara atau epistemologi Jawa menampilkan dirinya dalam konteks kekinian sebagai keterputusan epistemologis dengan nalar hegemonik eurosentrisme. Semisal klaim universalisme dalam membaca posisi Islam dan Nusantara di dunia. Pada saat bersamaan, ia membawa satu perspektif kritis ke-nusantara-an untuk membaca seluas mungkin teks-teks budaya historis lalu secara efektif memperluas batas-batas intelektual satu ranah keilmuan baru ke dalam disiplin islamic studies atau studi Islam kontemporer. Cara ini diharapkan bisa menjadi satu lompatan lebih maju dalam mengangkat Islam sebagai kekuatan peradaban kemanusiaan sekaligus menjadikan studi Islam nyambung dengan persoalan kemanusiaan, terutama di negeri Arab dan di Eropa yang kini dilanda krisis keagamaan dan konflik berdasarkan agama dan ideologi sektarian (hlm 27).
