Membaca Ulang Manusia Indonesia

Aku menyambut awal Ramadan tahun ini di kampung halamanku, Purworejo, Jawa Tengah, sesuatu yang belum lagi kurasakan sejak kurang lebih lima tahun ke belakang. Hari pertama puasa, Kamis (19/02/2026) pagi, mentari seolah enggan beringsut naik. Sisa hujan semalam masih menggantung tebal di udara, menyisakan suasana sendu seakan mengisyaratkan untuk menunda bangun dari mimpi. Tak ada hiruk-pikuk yang memaksa hari untuk segera dimulai. Tak ada kegaduhan yang memecah keheningan secara drastis.

Secara perlahan, di sela-selanya suara kokok ayam dan deru halus beberapa sepeda motor mulai terdengar, melintas tanpa tergesa, seolah menyesuaikan diri dengan ritme pagi yang masih setengah terjaga. Di bulan Ramadan ini, ritme itu justru terasa semakin khidmat. Aktivitas tetap berjalan, tetapi tanpa ambisi untuk berlari. Waktu seolah diberi ruang untuk mengembang, memberi kesempatan bagi setiap orang untuk menapaki hari dengan kesadaran yang lebih utuh.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, dengan mata yang belum sepenuhnya terjaga, tanganku malah meraih sebuah buku bersampul merah dengan ornamen emas yang memadupadankannya. Judulnya: Manusia Indonesia.

Ternyata hampir lima dekade telah berlalu sejak pidato kebudayaan jurnalis dan budayawan Indonesia, Bung Mochtar Lubis, disampaikan di Taman Ismail Marzuki. Namun, pembahasan yang diajukan tentang watak “Manusia Indonesia” terasa seperti gema yang belum sepenuhnya reda. Buku ini bukan sekadar untuk dibaca, melainkan sari pemikiran yang menggugah kita untuk menata ulang cara berpikir, sejenak menanggalkan ego, untuk bersama melakukan refleksi dan mengkritisi diri.

Pada 6 April 1977, dalam sebuah forum intelektual, kala itu Bung Mochtar Lubis memberikan pidato mengenai pandangannya tentang “Manusia Indonesia.” Pidato itu memunculkan berbagai tanggapan baik pro maupun kontra terhadap pandangan Bung Mochtar Lubis yang membedah watak sosial bangsa dengan bahasa lugas, tajam, dan reflektif. Adapun, sifat manusia Indonesia yang disampaikan pidato kebudayaan tersebut, di antaranya: munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, berbakat seni, dan lemah karakternya.

Barangkali memang gagasan yang disampaikan tidak disusun melalui kerangka penelitian ilmiah yang ketat. Namun, demikianlah kritik sosial kerap lahir dari kepekaan pengamatan dan pengalaman historis. Sebagaimana halnya stereotip, ia tidak selalu dapat digeneralisasi sebagai kebenaran mutlak, tetapi juga tidak sepenuhnya keliru untuk diabaikan. Justru, ketika direfleksikan dalam konteks hari ini, di tengah riuh demokrasi digital dan polarisasi sosial, buku ini rasanya memiliki relevansi yang kuat.

Tinggalkan Balasan