Selama membaca buku ini, muncul kesadaran-kesadaran yang sebelumnya luput dari perhatian. Hal-hal yang sesungguhnya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan telanjur sering kita praktikkan tanpa pernah benar-benar kita pertanyakan.
Salah satunya adalah penggunaan sapaan “bapak” dalam dunia kerja dan birokrasi, yang sekilas tampak sebagai bentuk penghormatan. Barangkali dari sanalah lahir mentalitas “Asal Bapak Senang”, sebuah istilah yang menggambarkan kecenderungan untuk lebih mengutamakan kepuasan atasan daripada integritas dan kebenaran.

Tentu ada beberapa hal lain yang demikian menyadarkan kita untuk memunculkan curiosity. Selain itu, setelah pidato tersebut rampung disampaikan, buku ini tidak berhenti pada artikulasi gagasan tunggal dari Bung Mochtar Lubis semata, melainkan berkembang menjadi ruang dialektika yang lebih luas. Di dalamnya terhimpun beragam tanggapan, sanggahan, afirmasi, hingga elaborasi kritis dari para akademisi dan pemikir lintas disiplin. Tajuk baru tersebut berjudul: Tanggapan-tanggapan dan Tanggapan atas Tanggapan.
Kehadiran respons-respons tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan publik diproses dalam ruang akademik: diuji, ditimbang, dipertajam, bahkan dipersoalkan kembali. Pembaca tidak disuguhi kesimpulan yang final dan sepihak, melainkan diajak menyaksikan proses pencarian makna secara kolektif. Di sinilah letak kekuatan buku ini. Ia menghadirkan keseimbangan sudut pandang (balancing perspectives) yang memungkinkan kita memahami konteks, argumentasi, dan implikasi pemikiran Bung Mochtar Lubis secara lebih komprehensif.
Dengan membaca bagian diskusi dan tanggapan tersebut, kita seakan-akan turut berada di tengah forum intelektual yang hangat dan reflektif. Perdebatan yang muncul bukan sekadar adu argumentasi, tetapi cermin dari kegelisahan zamannya sekaligus upaya serius untuk merumuskan arah kebudayaan dan karakter bangsa. Karena itu, buku ini bukan hanya penting sebagai karya seorang tokoh, tetapi juga sebagai dokumentasi dialog pemikiran yang memperkaya tradisi intelektual Indonesia.
Tentu, bagi seseorang yang lahir di era 2000-an, membaca dialektika pemikiran yang tersaji di pengujung buku ini menjadi pengalaman yang menarik. Perbedaan pandangan tidak dihadirkan dalam nada saling meniadakan, melainkan sebagai upaya memperkaya perspektif. Setelah menamatkannya, saya justru merasa: barangkali memang seperti inilah seharusnya kita saling menanggapi, menyampaikan ketidaksepakatan secara bijak dalam ruang publik, dengan tujuan refleksi, bukan sekadar memenangkan perdebatan.
