Membaca Ulang Pemikiran Ibn Taimiyah

Selanjutnya, kita akan coba menengok bagaimana alur pemikirannya serta melakukan pembacaan ulang. Sebagai ulama yang tercatat sangat produktif dengan berbagai karangannya, tentu perlu kiranya untuk membaca beberapa poin penting dalam pemikirannya. Hal itu juga nanti bisa ditarik benang merah —sejauh mana pengaruh pemikiran Ibn Taimiyah sendiri dalam studi Islam mutakhir. Dalam wacana wahyu dan akal, tentu bisa dengan mudah dikatakan, bahwa Ibn Taimiyah lebih mendahulukan wahyu. Ia meletakkan inferioritas akal di bawah dominasi wahyu. Artinya, inferioritas akal dianggap tidak bisa melangkahi wahyu (nash).

Di saat yang bersamaan pula, ia menerima hanya Quran dan sunnah sebagai pedoman yang absah dalam menentukan hukum Islam. Ihwal yang berkelindan erat dengan syariat Islam cenderung dirujukkan kepada keduanya. Dengan begitu, seolah tidak ada celah lain selain mengembalikan perkara agama kepada kedua landasan itu. Bahkan, Ibn Taimiyah sendiri menolak beragam takwil, hingga cenderung menempatkan teks dan pemaknaannya secara leksikal-tekstual. Dalam konsepsinya, hakikat dan kebenaran suatu ayat tidak bisa dicapai dengan takwil tersebut, sebab hanya Allah yang bisa mencapai kebenaran itu. Sekali lagi, ini menegasi superioritas akal dan menjadikan akal inferior.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Itu merupakan suatu corak pemikiran yang dilahirkan oleh Ibn Taimiyah. Ada banyak pemikiran sebenarnya yang dihasilkan olehnya dengan bebeberapa karangannya yang banyak ia tulis di balik jeruji besi. Salah satu karangan yang cukup keras dalam menentang pencaci Nabi adalah As-Sharimul Maslul ala Syatimi ar-Rasul. Karya ini lahir setelah berseteru dengan ‘Asshaf an-Nashrani, seorang Kristiani dari Suwayda. Dan atas ketegasan itu pula yang mengantarkannya ke dalam penjara. Yang tidak kalah menarik juga kritik Ibn Taimiyah terhadap logika formal Aristotelian yang banyak dianut ulama Islam sebelumnya.

Kritik Terhadap Mantik

Tinggalkan Balasan