Dua bukunya yang berjudul Ar-Raddu ala al-Mantiqiyyin (Penolakan Terhadap Ahli Logika) dan Naqd al-Mantiq (Kritik Logika) dengan terang-terangan mengkritik logika Aristoteles. Salah satu poin kritiknya pada logika Aristoteles ikhwal definisi. Jika Aristoteles menganggap bahwa definisi yang dapat mengantarkan kepada hakikat sesuatu, hal itu dinegasi oleh Ibn Taimiyah. Ia menganggap, entitas yang mendefinisikan juga butuh untuk didefinisikan. Artinya kemungkinan yang terakhir ini akan mengantarkan pada nalar yang sirkular. Ia juga menambahkan bahwa tidak ada kesepakatan umum terkait dengan definisi dari suatu hal. Katakanlah dalam takrif “manusia adalah hewan yang berpikir,” di sana masih terdapat perdebatan sengit.
Inilah motif pemikiran dari Ibn Taimiyah yang turut mewarnai khazanah Islam. Setidaknya, hal ini dapat menunjukkan bahwa studi keislaman masa itu bukanlah maujud yang statis dan stagnan. Ada dinamika-dinamika yang dialami di dalamnya. Dan Ibn Taimiyah ikut mengambil alih kajian keislaman saat itu. Meski, mungkin hari ini tidak sedikit yang menegasi pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah. Tentu, hal ini tidak patut untuk dipersoalkan, yakni ikhwal negasi dan afirmasi. Hanya, saya di sini membeberkan beberapa pemikiran darinya yang mungkin masih banyak berkembang hingga saat ini. Itu penting, bagaimana kita akan mempelajari suatu corak pemikiran—beserta epistemologi di dalamnya—terlepas dari apakah setuju atau tidak. Hal ini juga sebagai upaya untuk menghapus penolakan buta dan tanpa negasi yang kritis.

ilustrasi: unisla.ac.id
