Membaca Ulang Spirit Teks Agama

Meminjam analogi dari Ngatawi al-Zastrouw, orang yang memahami agama secara harfiah ibarat orang yang menyiram tanaman di saat hujan lebat. Ia melakukan hal tersebut dengan dalih menjalankan perintah, tanpa mengetahui esensi dan tujuan perintah tersebut. Padahal jelas, jika terjadi hujan maka tanaman akan tersiram air secara otomatis.

Selain itu, tidak semua ayat dan teks agama bisa dimaknai dan dipahami secara tekstual. Menurut para ahli tafsir, banyak teka agama yang memiliki makna konotatif (makna kiasan), terutama ayat-ayat mutasyabihat―ayat yang bermakna samar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buya Husein dalam bukunya inimengajak kita untuk selalu menggunakan akal budi dalam memahami sesuatu. Beliau beralasan bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman utama umat Islam aktif menyeru manusia untuk berpikir.

Sebagai contoh adanya redaksi ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi afalaa tatafakkaruun (apakah kamu tidak memikirkan) dan afalaa ta’qiluun (apakah kamu tidak menggunakan akalmu). Kendatipun redaksi ayatnya berbeda, namun keduanya memiliki substansi yang sama. Yakni, anjuran untuk berpikir dalam memahami sesuatu. (hlm.16)

Dalam salah satu esainya, Buya Husein menawarkan cara memahami teks agar mendekati kebenaran. Beliau mengutip metode dari Syaikh Ibrahim al-Kurani―sosok ulama yang menjadi rujukan ahli Islam Nusantara pada abad ke-17. Al-Kurani menyatakan bahwa memahami teks harus dilakukan dengan mempertimbangkan banyak aspek, seperti: asbabun nuzul, konteks ayat, kisah, hukum, konteks orang yang diajak bicara, dan lain-lain.

Perlu untuk diketahui bersama, bahwa teks selalu berkait-kelindan dengan lingkungan, bahasa, budaya, dan kondisi sosial-politik yang melingkupinya. Teks tidak lahir dari ruang yang hampa. Maka meninjau dan memahami teks secara utuh dari beberapa aspek adalah sebuah keharusan.

Inklusivisme: Nurani dalam Beragama

Tinggalkan Balasan