Membangun Kembali Hubungan Guru-Murid

Baruch de Spinoza pernah mengingatkan, “Humanus actiones non ridere, non lugere, neque detestari, sed intellegere”, perilaku manusia bukan untuk dicemooh, dikasihani atau dijauhi secara jijik, melainkan harus dipahami dengan bijak.

Jika guru ingin bertindak, harus memahami sikap muridnya terlebih dahulu dengan bijak. Begitu juga seorang murid, hati-hati dalam bertindak, yang harus dipahami oleh murid adalah kira-kira kalau saya bertindak demikian, guru saya berkenan atau tidak. Antara guru dan murid harus sama-sama bertindak secara bijak. Dengan kata lain, baik guru maupun murid memiliki posisi atau tugas yang berbeda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tugas seorang guru adalah sebagaimana yang disampaikan Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, di depan memberi semangat, di tengah membangun kreativitas, di belakang memberi dukungan. Guru tidak berhak mengklaim atau memetakan murid yang non-etis atau sebaliknya. Fokuslah terhadap apa yang dipesankan Bapak Pendidikan.

Sementara tugas seorang murid yakni menghormati dan mematuhi gurunya. Batasannya, jika tidak berkaitan dengan keilmuan maka, secara totalitas seorang murid harus menghormati dan mematuhinya dengan cara etika yang baik. Berbeda jika menyangkut dengan keilmuan, maka murid memiliki legalitas untuk memperbaiki gurunya apabila ada yang keliru dalam menyampaikan. Namun, tetap dengan cara yang beretika.

Jangan sampai antara hak dan kewajiban dibentrokkan, bahkan dijadikan dalih untuk bertindak semena-mena. Hak dan kewajiban harus sama-sama berjalan agar, hubungan guru dan murid sama-sama diuntungkan dan tidak ada yang dirugikan.

Kalau boleh diibaratkan, kain hasil rajutan jika lepas rajutannya, maka tidak akan indah bahkan tidak akan bisa dipakai lagi. Berbeda dengan hasil rajutan yang masih kuat, selama apapun orang yang memakainya pasti akan tetap bagus dan layak dipakai apabila rajutan itu tetap utuh.

Sama dengan pendidikan, jika hubungan guru dan murid baik maka jangan heran 2045 mendatang negara-negara lain perihal pendidikan akan berkiblat kepada Indonesia.

Tinggalkan Balasan