Kita menyadari bahwa kepentingan manusia saat ini acap kali berdalihkan agama. Kekerasan, baik dalam bentuk wacana maupun fisik, banyak berseliweran berlandaskan distorsi tafsir tekstual-skriptisis (radikalis)/kontekstual-liberal (liberalis) terhadap nash Al-Quran dan sunnah al-Hadis.
Kekerasan wacana meliputi ujaran kebencian, black compaign, hoax, atau taghut sebagai justifikasi atau pembenaran tunggal terhadap kehendaknya. Juga kekerasan fisik berupa bom bunuh diri, memaksakan konsep khilafah Islamiyah dalam bernegara, formalisme agama, atau jihad fi sabilillah dalam kelindan paham radikalisme, ekstrimisme, dan liberalisme.

Dalam hal ini, Islam bukan lagi agama sebagai karya agung Tuhan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw menjadi risalah kepada seluruh umat manusia, melainkan mewujud ideologi keagamaan pihak tertentu yang aktif disuarakan, seperti HTI, FPI, PKS, dan Wahabi.
Kekerasan sekarang bukan lagi menjadi pelarian alternatif sebagai jalan terakhir untuk melawan kemungkaran. Kekerasan sudah bertransformasi menjadi “nalar kekerasan” karena mencari dalil sebagai legitimasi atas revolusi, menjadi “budaya kekerasan” karena menjadi pelarian tunggal dari permasalahan, dan manjadi “agamaisasi kekerasan” karena terus merasa absah melakukan kekerasan atas nama agama.
Daya Kritis Seorang Muslim
Dari sini, dipandang perlu menghidupkan kembali daya kritis sebagai seorang muslim tanpa menafikan apresiasi terhadap kreasi keberagamaan. Seperti seorang intelektual muslim Indonesia, Aksin Wijaya, yang menawarkan Islam yang humanistik-argumentatif dengan cara melepaskan tafsir tunggal dan otoritatif terhadap pesan Tuhan dalam Al-Quran.
