Mereka juga didorong untuk memulai proyek bisnis kecil-kecilan seperti jasa cuci sepatu, hidroponik, dan produksi gula semut, yang memberikan pengalaman praktis dalam mengelola usaha.
Selain itu, inkubator ini menyediakan pendampingan dan mentoring dari praktisi bisnis serta fasilitas dan modal awal untuk membantu santri memulai usaha mereka. Dengan demikian, inkubator bisnis ini menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kewirausahaan di kalangan santri.

Keempat, membuat unit usaha pesantren. Mengelola unit usaha di dalam pesantren merupakan cara efektif untuk memberikan pengalaman praktis kepada santri.
Misalnya, Pondok Pesantren Sidogiri di Pasuruan, santri yang terlibat dalam pengelolaan unit usaha ini belajar tentang berbagai aspek bisnis, mulai dari produksi, manajemen stok, pemasaran, hingga pelayanan pelanggan.
Pesantren Sidogiri memiliki sedikitnya 10 unit usaha yakni kantin, toko kelontong (menjual sembako), toko buku, toko alat-lat rumah tangga, kosmetik, toko bangunan, mini market, pertanian, BMT, pembuatan sarung dan baju muslim. Masih ada usaha percetakan kitab, hadis, buku tulis, dan undangan, kue dan air kemasan. Semua olah tangan santri pesantren Sidogiri ini diberi merek ‘Santri’. Khususnya Produk air kemasan santri Pesantren Sidogiri mampu bersaing dengan produk lain di pasaran.
Kelima, menjalin kerja sama dengan industri dan pemerintah. Kerja sama dengan industri dan pemerintah dapat membuka peluang lebih luas bagi pengembangan kewirausahaan di pesantren.
Contohnya, Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung, bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pertanian terpadu dan agribisnis.
Pengembangan agribisnis di pesantren ini melibatkan konsep pentahelix, yaitu kolaborasi antara akademisi, bisnis, masyarakat, pemerintah, dan media.
Pesantren Al-Ittifaq berhasil mengelola lahan pertanian yang menghasilkan berbagai produk unggulan seperti sayuran organik, yang dipasarkan baik secara lokal maupun ke luar daerah. Kemitraan dilakukan dengan beberapa pasar tradisional, modern market, dan restoran, serta lembaga pembiayaan dan lembaga penelitian.
Selain itu, peran pemimpin (kiai) dan santri sangat penting dalam pengembangan agribisnis ini, yang mencakup tidak hanya produksi tetapi juga distribusi dan pemasaran hasil pertanian.
Dengan, kolaborasi antara pesantren, industri, dan pemerintah di Pondok Pesantren Al-Ittifaq menunjukkan bagaimana model kerjasama yang baik dapat mendukung pengembangan kewirausahaan dan kemandirian ekonomi pesantren serta memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi lokal dan nasional.
Integrasi pendidikan kewirausahaan di pondok pesantren merupakan langkah strategis yang tidak hanya memperkaya kurikulum, tetapi juga menyiapkan santri untuk menghadapi tantangan ekonomi modern.
Dengan berbagai inisiatif seperti mata pelajaran khusus, kegiatan ekstrakurikuler, inkubator bisnis, dan kerjasama dengan industri serta pemerintah, pesantren dapat mencetak santri yang memiliki kemampuan manajerial, inovatif, dan mandiri secara ekonomi.
Contoh-contoh dari Pondok Pesantren Darunnajah, Tebuireng, Al-Huda Payaman, Sidogiri, dan Al-Ittifaq menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, santri mampu berkontribusi secara signifikan dalam pemberdayaan komunitas dan pembangunan ekonomi.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pembelajaran agama tetapi juga pusat pengembangan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan zaman, mendukung terciptanya generasi santri yang siap menghadapi dan memanfaatkan peluang di era globalisasi dan digitalisasi
