Membangun Kampung Moderasi

Kamaruddin Amin, selaku Dirjen Bimas Islam, menjelaskan, bakal ada 1000 kampung yang menjadi target rintisan Kampung Moderasi pada tahun 2023. Penentuan kampung-kampung tersebut dilakukan dengan memprioritaskan pada kampung yang memiliki keunikan terlebih dahulu yakni, adanya multi kepercayaan, agama, ras, kebudayaan, adat istiadat, dan tradisi. Kampung moderasi ini diharapkan menjadi role model bagi seluruh wilayah di Indonesia bahwa hidup bersama di tengah perbedaan adalah mungkin. Kebersamaan yang terjalin malah dapat menjadi kekuatan sosial.

Tiga Pola Komunikasi

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ada tiga pola komunikasi yang kiranya perlu diaplikasikan dalam rintisan kampung moderasi. Pertama, pola komunikasi dalam relasi sosial. Komunikasi ini bisa didorong dari kegiatan sosial kemasyarakatan, seperti sambatan (gotong royong), krigan (kerja bakti), arisan RT/RW, dan ronda. Kegiatan-kegiatan tersebut dimenej supaya melibatkan umat dari berbagai elemen. Dengan langkah ini, ekosistem sosial terjadi komunikasi secara guyub dan penuh keintiman. Aspek gotong royong, tolong menolong membentuk solidaritas sosial dan mengeliminir ketegangan antar umat beragama.

Kedua, pola komunikasi dalam relasi tradisi–budaya. Arah dari pola komunikasi ini menempatkan nilai lokalitas (kegiatan tradisi–budaya) sebagai penyokong utama dibalik tergapainya simpul keharmonisan. Kita tahu, pelbagai corak kebudayaan telah mengakar kuat dan menghiasi di setiap penjuru wilayah. Untuk itu, setiap kali pelaksanaan kebudayaan lokal—Grebeg Suran, Nyadran, Ruwatan atau tradisi yang lain—hendaknya melibatkan semua unsur agama yang ada. Antar umat diberi tugas saling kolaborasi mengisi pembagian plot-plot; ada yang menjaga parkiran, monitoring acara, hingga pos kesehatan. Pada puncak kegiatan, bisa diadakan doa bersama lintas agama. Masing-masing tokoh agama nantinya mendapat kesempatan secara bergiliran.

Ketiga, pola komunikasi dalam relasi keagamaan. Setiap kampung harus membuat semacam forum bersifat dialogis. Forum ini ditujukan sebagai salah satu alternatif komunikasi untuk memecahkan serta mengklarifikasi persoalan-persoalan keagamaan, seperti truth claim, dan persoalan-persoalan sosial yang berpotensi menimbulkan konflik inter/antar agama.

Forum tersebut juga mesti melibatkan tokoh-tokoh lintas agama. Peranan tokoh agama begitu penting, karena dipandang sosok berkarisma. Apa yang disampaikan dan dilakukan kerap menjadi pegangan untuk diikuti oleh para pengikutnya. Karena itu, tokoh agama harus jadi role model dalam berhubungan baik dengan pemeluk agama lain. Tak kalah penting juga, tiap tokoh mengembangkan interpretasi (tafsir) yang bertendensi spirit keadilan dan kerukunan. Dengan begitu ajaran agama-agama menjadi fungsional, mampu menciptakan koeksistensi manusia.

Tinggalkan Balasan