Membedah Sisi Lain Tahfidz Quran Kilat

Salah Kaprah

Tapi, benarkah bisa seinstan dan semudah itu menjadi seorang penghafal al-Quran? Bagaimana sejatinya penghafalan al-Quran itu? Sering terjadi salah kaprah dalam penyebutan istilah bagi orang yang hafal al-Quran dengan gelar hafidz atau hafidzah. Padahal, gelar hafidz diperuntukkan bagi seorang ulama yang hafal 100.000 hadits, sedangkan gelar untuk orang yang hafal al-Quran adalah Hamilul Quran yang bermakna pembawa atau pemikul Quran. Sebagaimana ibu hamil, ia membawa janinnya di dalam perut ke mana pun ia pergi, dijaga terus dan tidak boleh digugurkan. Begitu juga, seorang Hamilul Quran ia berkewajiban menjaga hafalannya, mendaras juznya, dan berdosa hukumnya jika digugurkan hafalannya dengan cara tidak mendarasnya secara konsisten.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hafal al-Quran adalah mampu melafalkan al-Qquran dengan lancar tanpa melihat mushaf. Ini adalah derajat terendah seorang Hamilul Quran. Tingkatan yang lebih tinggi adalah hafal Quran serta mampu mengetahui makna dari ayat-ayat al-Quran. Untuk bisa memahami maknanya, diperlukan beberapa disiplin ilmu dan juga tafsir. Adapun, tingkatan yang tertinggi dari seorang Hamilul Quran adalah mampu menghafal, memahami makna, juga mengaplikasikan pesan moral dan hukum yang ada dalam al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Inilah yang disebut hafal Quran secara lafdzan, ma’nan, wa ‘amalan.

Tahfidz by Process

Penghafalan al-Quran sesungguhnya tidak bisa lepas dari proses. Bagaimana proses yang lazim digunakan di pesantren tahfidz yang sebenarnya?

 

Pertama, dan yang paling utama, sebelum seorang santri dinyatakan boleh menghafalkan harus ditashih dulu bacaannya, apakah sudah sesuai dengan tajwid, makharijul huruf, dan fasohah atau sifatul huruf hijaiyah. Di pesantren tahfidz, para santri di-sounding menjadi pembaca Quran yang adil. Adil di sini berarti memberikan hak-hak huruf untuk dibaca sesuai dengan sifatnya, dengan tidak mengurangi porsinya; alif atau hamzah dibaca alif, bukan dibaca ‘ain atau sebaliknya; sin dibaca sin bukan syin atau tsa; kho’ dibaca kho’ buka cha’ atau ha’. Satu huruf dibaca satu ketukan, dan ketika bertemu mad dibaca dengan dua ketukan, dengan kesesuaian kaidah sebagaimana Qurro’ yang bersanad.

Selain itu, melantunkan bacaan al-Quran dengan lancar, tidak dengan tergesa-gesa dan tidak ditumpuk-tumpuk hurufnya, meskipun ada istilah hadr (membaca Quran dengan cepat, akan lebih afdol dengan membacanya secara tartil). Lidah yang fasih dan makhraj yang tepat adalah karena kebiasaan; terbiasa tadarrus, terbiasa membaca al-Quran, terbiasa berlatih makhraj huruf. Sebab, bergesernya pelafalan satu huruf ke huruf lain dalam satu kalimat bisa berakibat fatal pada makna dan tafsirnya; “لئن شكرتم” yang aslinya syin pada kalimat شكرتم dibaca sin سكرتم akan bergeser maknanya dari “jika kamu bersyukur” menjadi “jika kamu mabuk”. Inilah yang dulu dikatakan oleh pakar qiroah sab’ah dan penulis kitab Syarah Syifaul Jinan, KH Syaifuddin bahwa ghorib bukan untuk ayat-ayat tertentu saja, tapi untuk seluruh ayat al-Quran. “Jangan mewariskan bacaan Quran yang salah,” (KH. Dachlan Salim Zarkasyi, penemu metode qiroati).

Kedua, proses yang wajib dijalani adalah hafalan hingga mutqin (hafalan yang susah dilupakan). Caranya adalah dengan menyetorkan hafalan ke guru dengan talaqqi (face to face). Hafalan yang disetorkan ini memiliki batas maksimum yang sekiranya ketika menambah hafalan, hafalan sebelumnya tidak hilang. Misal, setoran halaman 1, maka pada hafalan selanjutnya, yakni halaman 2, tidak membuat santri melupakan hafalannya pada halaman 1. Di pesantren tahfidz biasanya sehari wajib setor 1 halaman. Maka akan menjadi membingungkan kalau sehari setor 1 juz, muraja’ah-nya sebelah mana?

Tinggalkan Balasan