Membedah Sisi Lain Tahfidz Quran Kilat

Ketiga, mempertahankan hafalan yang telah disetorkan pada saat muraja’ah (mengulang hafalan sebelumnya). Satu juz ada 20 halaman, maka seharusnya seseorang bisa menghafal minimal 1 juz dalam 1 bulan. Lalu, ada ujian per juz hingga per lima juz sampai khatam. Santri yang masih belum lancar melantunkan satu juz bil ghoib (tanpa melihat mushaf) tidak akan diperolehkan setoran hafalan selanjutnya. Inilah nanti yang membedakan tingkat kecerdasan seseorang dalam menghafal.

Tapi satu hal yang perlu diketahui bahwa menghafal al-Quran tidak cukup dengan kecerdasan dan nafsu cepat khatam, tapi himmah yang tinggi dalam memelihara kalam Allah. Ketiga proses tersebut harus benar-benar dijalankan jika ingin mendapatkan hafalan yang mutqin.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tiga Syarat

Ada tiga syarat menghafalkan al-Quran. Pertama niat melestarikan kalam Allah, kedua manajemen waktu, dan ketiga konsisten. Di luar itu, Allah memberikan anugerah tertentu kepada beberapa orang yang dikehendaki-Nya untuk hafal dengan cepat.

Lalu, bagaimana bisa para santri tahfidz yang sudah berpengalaman pahit manis dalam menghafal Quran di pesantren tahfidz selama bertahun-tahun tiba-tiba dihadapkan dengan menjamurnya program yang diadakan oleh lembaga tahfidz kilat? Yang lebih utama bagi santri tahfidz adalah proses, diiringi riyadlah dan keistikamahan dalam menjaga hafalan. Kalau khatam metode cepat mungkin sangat banyak, tapi tidak bisa menjamin untuk membaca keseluruhan juz dengan tanpa melihat mushaf.

KH Deden Makhyaruddin, founder Indonesia Murajaah mengistilahkan, orang yang hafal Quran dengan bertahun-tahun di pesantren tahfidz dan hafalannya mutqin adalah santri tahfidz organik, sedangkan santri hasil didikan hafalan Quran kilat adalah santri tahfidz nonorganik.

Teringat pesan Allahu yarham KH Maimoen Zubair: “Zaman akhir nanti Quran tidak difungsikan sebagai petunjuk, tapi hanya sekadar bacaan. Akhirnya Quran seperti Kitab Zabur, hanya untuk bagus-bagusan lagu dalam membacanya”.

Dan, sepertinya kita telah mendekati zaman akhir di mana tahfidz Quran menjadi semacam tren dan gaya hidup. Bukan menjadikan Quran sebagai alat kontemplasi dengan Tuhannya.

Lembaga Tahfidz Kilat bukan tempat yang buruk, tapi jika memiliki tekad bulat untuk menjadi seorang Hamilul Quran atau ingin memiliki anak-anak generasi penghafal Quran, maka hargailah prosesnya dengan memasuki pesantren tahfidz organik.

Tinggalkan Balasan