Membongkar Fenomena Hijrah di Era Media Sosial

Contoh konkretnya adalah tren penggunaan hijab panjang dan gamis syar’i di Indonesia, yang kerap kali dimulai dari para selebriti yang berhijrah dan kemudian mempengaruhi penggemarnya untuk mengenakan busana serupa.

Misalnya, beberapa artis atau influencer yang dulunya berpenampilan modern mulai mengenakan pakaian tertutup dan mempromosikan gaya hidup Islami di akun media sosial mereka. Ini bisa menjadi pengaruh positif, karena mungkin saja mendorong banyak wanita muslimah lainnya untuk lebih tertarik mendalami agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, di sisi lain, ini juga dapat memunculkan anggapan bahwa hijrah adalah soal penampilan, sehingga tujuan utama hijrah yang seharusnya sebagai proses peningkatan iman dan ibadah dapat terlupakan.

Fenomena hijrah yang lebih fokus pada aspek fasyen dapat mengaburkan esensi hijrah yang sebenarnya. Dengan menitikberatkan hijrah pada perubahan penampilan, ada risiko bahwa hijrah dilihat hanya sebagai gaya hidup baru tanpa pemahaman agama yang mendalam.

Fenomena ini menciptakan kesan bahwa seseorang sudah berhijrah hanya dengan mengubah penampilan tanpa menginternalisasi perubahan akhlak, niat, dan perilaku yang seharusnya menyertai proses tersebut.

Contoh nyata dari pergeseran ini adalah adanya komunitas hijrah yang terkadang memiliki standar khusus tentang penampilan. Beberapa orang menganggap bahwa mereka yang belum mengenakan hijab panjang atau tidak mengikuti gaya berpakaian tertentu belum benar-benar berhijrah. Padahal, Islam mengajarkan bahwa hijrah bukan hanya soal tampilan luar, melainkan tentang transformasi hati dan komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan.

Fokus yang berlebihan pada aspek luar ini juga bisa memicu timbulnya rasa sombong atau eksklusivitas di kalangan mereka yang menganggap diri lebih hijrah dibanding dengan orang lain.

One Reply to “Membongkar Fenomena Hijrah di Era Media Sosial”

  1. Saya setuju bahwa hijrah bukan semata tampilan luar atau gaya pakaian syar’i. Namun, bukan hal yang jelek jika seseorang memulai hijrah dengan pakaian Islami. Senyampang tidak semata-mata tampilan luar, bahkan seyogyanya diikuti oleh komitmen hati untuk terus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Intinya, catatan ini cukup menjadi inspirasi bagi kita agar pemahaman hijrah tidak dipersempit dengan batasan tampilan an sich. Karena perubahan buruk menjadi baik memiliki area kreatifitas yang cukup luas. Mantap!!!!!

Tinggalkan Balasan