Memetakan Potensi Konflik Antarumat Beragama

Realitas seperti ini dapat kita petakan. Paling tidak ada beberapa sebab mengapa konflik identitas hingga antarumat beragama sering terjadi. Pertama, perbedaan doktrin dan sikap mental masing-masing komunitas agama.

Indonesia memiliki pasar spiritual tersebar di segala penjuru dan menyebar dengan beragam dogmatisme dan ajaran-ajaran spiritual. Mereka saling mencari jemaah dan menunjukkan eksistensinya dengan cara masing-masing. Ada yang secara moderat hingga secara diam-diam unsur radikal menelusup dalam masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perbedaan doktrin yang berujung pada polarisasi umat beragama menyebabkan dogmatisme kelompok yang maunya memegang teguh spiritualisme agama dengan menerjemahkan agama secara literal. Tujuannya adalah menjaga kemurnian agama dengan gerakan purifikasi. Contohnya adalah gerakan kembali ke masa nabi.

Munculnya banyak komunitas agama mendorong peluang terbukanya arena kritik. Hal tersebut dikarenakan hampir setiap umat beragama melakukan kritik terhadap ajaran agama sebelumnya, membandingkan dengan ajaran agama lawan, dan memberikan penilaian atas agama lain. Kondisi demikian membuat agama yang dianggap sakral, rawan untuk dibentur-benturkan. Inilah mengapa konflik antarumat beragama hingga kini masih sering terjadi.

Kedua, perbedaan latar belakang kesukuan dan ras pemeluk agama. Problematika identitas dan lingkup historis pemeluk agama kerap menjadi pendorong terciptanya konflik di masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan filsuf asal India Amartya Sen dalam bukunya Identity and Violence yang menyebutkan bahwa salah satu tantangan terberat abad modern salah satunya ialah mengelola keragaman identitas. Amartya menjelaskan bahwa di era modern tidak lantas benar-benar mencairkan perbedaan budaya dan agama. Itulah menagapa persoalan identitas masih menjadi persoalan serius yang semakin kompleks dan sulit untuk diselesaikan.

Ketiga, perbedaan tingkat kebudayaan. Banyak di antara kita menaruh kepercayaan terhadap tingkat kebudayaan yang sama atau lebih tinggi dari yang kita miliki. Adanya stratifikasi kebudayaan memicu munculnya kelas kebudayaan yang tinggi dan rendah. Jika tingkatan lebih tinggi maka dapat diterima daripada budaya yang lebih rendah, padahal tinggi rendahnya budaya belum tentu baik dan hanya orang-orang di dalam kebudayaan itu yang tahu.

Tinggalkan Balasan