Memetakan Potensi Konflik Antarumat Beragama

Pemikiran seperti ini perlu dikoreksi. Kebudayaan yang ada di Indonesia adalah investasi bangsa yang harus dijaga kelestaraiannya. Kita harusnya bangga diberi anugerah Tuhan dengan segala keunikan dan kekhasan masing-masing budaya.

Keempat, ketidakseimbangan relasi kuasa antara mayoritas dan minoritas. Kita tidak bisa membuang fakta bahwa dalam lingkup politik kekuasaan dalam struktur negara terjadi ketimpangan dan masih dibeda-bedakan. Jelas ini jauh dari kata cita-cita negara yaitu terwujudnya perdamaian dan kerukunan. Pesan Presiden Soekarno yang paling dikenang yaitu, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pesan Bung Karno tersebut begitu nyata kita rasakan saat ini. Kesenjangan dan ketimpangan minoritas-mayoritas umat beragama selalu berujung konflik berkepanjangan. Bagaimana tidak? Dalam masalah pembangunan rumah ibadah saja masih sering dipersoalkan.

Itulah mengapa pendidikan bernegara dan multikultural melalui lembaga pendidikan formal hingga saat ini masih terus ditanamkan pada generasi muda. Kemudian, usaha Kementrian Agama melalui program moderasi beragama juga menjadi hal yang krusial untuk dapat diamalkan dan menyebar dalam lingkungan masyarakat. Sehingga pertanyaan seperti apa agamamu, apa sukumu, apa ideologimu tidak terdengar lagi dalam ruang pelayanan fasilitas masyarakat. Semua disamaratakan dalam pemenuhan hak-hak warga negara Indonesia.

Marilah kita memperkokoh solidaritas kebangsaan, yakni sebuah sikap dan cara pandang yang senantiasa menganggap diri kita sebagai bagian dari kelompok besar bernama bangsa Indonesia. Patut disadari bahwa membangun dan memperkokoh solidaritas kebangsaan bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan hanya dengan niat belaka. Butuh effort, toleransi, dan sikap terbuka yang setidaknya dapat memperkecil kerawanan konflik antarumat beragama. Agenda merawat kerukunan juga harus terus dikembangkan sehingga dapat terwujud penyelesaian konflik yang damai.

Tinggalkan Balasan