Kedua, mengungkap makna yang murni dan makna relasi (kata fokus) yang berkaitan. Makna murni dapat digali dari kamus Arab yang membahas kata-kata dalam al-Quran. Sedangkan, makna relasi dapat ditelaah dari interaksi sintagmatis antar-kata dalam bidang semantic (Izutsu, 1997, pp. 10–16).
Ketiga, mencari data kesejarahan serta keterkaitan dengan makna kata yang akan diobservasi (Azima, 2017, pp. 52–53), yaitu sebuah langkah yang memuat ikhtiar terhadap bukti-bukti sejarah seputar ayat yang akan dibahas. Upaya ini dapat ditemukan dalam berbagai literatur, seperti dalam asbabun nuzul, tarikh, dan sebagainya.

Keempat, memeras argumen yang ditawarkan al-Quran kepada pembaca (umat) sebagai dasar dan dalalah bagi membentuk sebuah pola paradigma dan signifikansi berupa praktik dalam kehidupan.
Kehadiran perspektif ini bukan tanpa diselingi dinamika argumentasi, yakni pro dan kontra. Metode semantik sendiri jarang dipakai dalam tafsir kontemporer karena dirasa terlalu spesifik atas pemaknaan kata-kata dalam al-Quran. Sehingga, kajian ini akan melahirkan sebuah riset yang panjang kepada pembaca. Akan tetapi, masih ada juga yang menggunakan pola perspektif ini pada corak tafsirnya (Azima, 2017, p. 46).
Menurut Nashr Hamid Abu Zaid, konsep wacana linguistik sering terdikotomi dalam cakupan metodologi penafsiran al-Quran. Baginya, peranti linguistik serta realitas kondisi ketika itu, akan memunculkan objektivitas teks (Abu Zayd, 2002, p. 114). Namun, penggunaan aspek linguistik yang hanya berpijak pada kemampuan pengetahuan dan akal, akan menjerumuskan seorang pengkaji atau penafsir. Terbukti, pada kasus yang dialami para ahli kalam ketika menginterpretasikan ayat dengan hanya mengandalkan aspek majaz (metafora) dalam analisisnya (Susfita, 2015, p. 73).
Dalam hal ini, penulis menyikapi perbedaan di antara para pakar terhadap lintas perspektif yang dipakai dalam ranah penafsiran al-Quran. Menurut hemat penulis, berbagai perspektif yang ada adalah sebuah representasi bahwa penafsiran al-Quran dapat dicapai dengan berbagai metode dan pola pikir. Hal ini membuktikan bahwa kompleksitas al-Quran menuntut premis yang melimpah untuk menguraikan substansi ke-rahmat-annya. Realitas inilah yang sekiranya menguatkan bahwa al-Quran tidak akan habis untuk dikuak sebagai kalam Tuhan yang tinggi derajat kesusastraannya.
Wallahu A’lam bi as Showaab.
