“Menara Kudus”, Transmitter Ilmu Pengetahuan

Hingga pada abad ke-20 dunia penerbitan buku-buku keislaman terus mengalami perkembangan. Penerbit Menara Kudus hadir dengan terbitan buku keislaman yang lebih khas. Dalam menerbitkan kitab, misalnya, penerbit Menara Kudus memberikan tanda baca (harakah) yang disertai terjemahan baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab pegon yang berada di tengah tengah antarteks isi (matan).

Kitab terbitan jenis ini sangat menunjang santri dalam proses belajar memahami isi kitab kuning yang diajarkan di pesantren-pesantren. Selain menerbitkan kitab makna gandul Jawan, penerbit Menara Kudus juga menerbitkan buku-buku keislaman berbahasa Latin, mushaf Al-Quran khas Kudus (pojokan), dan kalender yang dikenal dengan nama Almanak Menara Kudus (AMK).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buku yang ditulis sebagai tugas akhir tesis ini menarik untuk dibaca karena memuat perjalanan perkembangan dunia percetakan dan penerbitan di Indonesia pada umumnya, dan penerbit Menara Kudus secara khusus, sejak pertama kali masuknya teknologi cetak yang dibawa oleh orang-orang Eropa pada abad ke-17 hingga perkembangannya pada abad ke-20. Bagaimana teknologi cetak yang awal mulanya hanya digunakan oleh Bangsa Eropa untuk kepentingan bisnis, kemudian dimonopoli oleh keturunan Tionghoa, lalu digeluti oleh kalangan Bumiputra, terutama untuk kepentingan penerbitan surat kabar dan terbitan berkala.

Ditulis dengan metodologi historis yang dibatasi kurun waktu tertentu, menjadikan buku ini memuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan historis sejenis. Seperti latar belakang pendirian penerbit Menara Kudus, orang-orang yang terlibat di dalamnya, serta strategi apa saja yang dilakukan hingga mampu mempertahankan usaha penerbitan bisa mencapai usia setengah abad, yakni sejak tahun 1952 hingga tahun 2005 (kurun waktu penelitian).

Tinggalkan Balasan