Mendadak Jadi Kiai

“Saya tidak berani menolak kalau Kiai memaksa,” jawab Bayan.

“Siapa yang memaksamu? Aneh-aneh saja.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Saya hanya mengikuti apa kata Kiai Dhori.”

“Baiklah. Ini ada undangan pengajian di kampung yang agak jauh. Nanti kalau sudah dekat di tempat pengajian aku yang nyetir sepeda. Kamu aku bonceng. Jangan lupa, kamu juga yang ceramah di panggung. Orang-orang di sana belum pernah kenal aku. Kamu tak perlu khawatir.”

Bayan bingung. Hendak menolak tapi takut kuwalat, mau mengiyakan takut jadi bahan tertawaan orang-orang dan merasa su’ul adab. Bagaimanapun juga pantang baginya untuk menolak perintah kiai. Akhirnya dia mengiyakan perintah itu.

Berangkatlah mereka berdua ke tempat diselenggarakannya pengajian. Ketika hampir sampai mereka bertukar posisi. Kiai Dhori jadi sopir, Bayan dibonceng. Karena masih belum ada HP, ke-viral-an Kiai Dhori hanya sebatas pada namanya saja. Kampung itu belum mengetahui wajah KIai Dhori. Bayan dihormati layaknya kiai besar. Tangannya dikecup banyak orang. Banyak di antaranya yang memberi salam tempel. Rupanya hati Bayan sudah mendapat futuh. Semua tampak mudah di hadapannya. Materi ceramah mengalir dengan fasih di lisannya. Semua hadirin mendengarkan ceramahnya dengan khusyuk, termasuk Kiai dhori yang humul itu.

Selesai ceramah Bayan dihadang panitia. Orang itu memintanya untuk menjawab materi bahtsul masail yang belum mendapat jawaban. Sehelai kertas berisikan lima pertanyaan diamati Bayan dengan seksama. Keningnya berkerut mencari jawaban. Namun sayang, pertanyaan itu bukan kelasnya. Tak mampu dia menjawabnya.

“Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak perlu saya yang menjawab, cukup orang yang mengantar saya tadi,” ucap Bayan memberi tahu. Panitia itu mengangguk, mencium tangan Bayan lalu beralih menuju Kiai Dhori yang dikiranya adalah santri Bayan. Kiai Dhori pun dengan fasih menjawab permasalahan itu. Lengkap dengan dasar-dasar maroji’ kitabnya.

Banyak orang yang hadir di situ terkagum-kagum melihat kealiman Kiai Dhori yang mereka kira adalah santri. “Santri saja sealim itu, apalagi kiainya?” beberapa orang tampak menangis penuh haru. Ternyata Allah masih memiliki makhluk yang sealim itu. Bayan pun dikecup banyak orang. Mereka lalu pulang kembali ke pondok menbawa berkat banyak sekali.

Sembari mengayuh pedal, santri Bayan menangis dalam hati. Ternyata begini rasanya jadi kiai. Kehormatan serta pujian yang disematkan padanya tak membuatnya merasa tinggi hati. Dia tahu, seorang kiai akan selalu merasa bahwa semua kehormatan dan nama besar yang disandangnya hanyalah sebuah titipan belaka. Bahkan seorang kiai akan merasa malu jika terlalu dielu-elukan oleh orang. Hanya Allah-lah yang pantas menerima pujian-pujian itu.

* * *
Cemoro, 23 Juni 2020

Tinggalkan Balasan