Mendadak Jadi Kiai

“Bisa Kiai,” sahut Dhori bangga, merasa ada satu hal yang mampu ia lakukan.

“Saya kan sering ngisi pengajian di kampung-kampung. Sedangkan saya ini sudah semakin tua. Kakiku mulai lemah untuk mengayuh pedal. Nanti kalau waktunya ngaji ke kampung, kamu yang nyetir. Saya yang bonceng. Mau kan?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Inggih Kiai,” Bayan menyanggupi perintah gurunya itu tanpa pikir panjang.

Jadilah sekarang Bayan menjadi pengantar ke mana pun perginya Kiai Dhori. Dari satu kampung ke kampung yang lain, Bayan selalu mengikuti. Tidak hanya mengantar, uraian hikmah pengajian kiainya itu juga selalu disimaknya dengan baik. Seiring bergantinya waktu, Bayan merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia pun berkeluh kesah pada Kiai Dhori.

“Maaf, Kiai, ada yang mau saya sampaikan,” ucap Bayan suatu hari.

“Kenapa, Yan? Sudah bosan jadi sopirku? Sudah bosan mengantarkanku berdakwah?” tanya Kiai Dhori.

“Mboten, Kiai,” sahutnya cepat.

“Lalu kenapa? Ingin nikah?”

“Begini, Kiai. Selama bermiinggu-minggu ini mengantar Kiai mengaji, saya merasa ada yang aneh dalam diri saya.”

“Apa?”

“Setiap kali mendengar ceramah Kiai. Saya selalu mengingatnya. Saya hafal setiap kata yang Kiai sampaikan. Seperti ada rekaman dalam kepala saya ini, Kiai,” ucap Bayan lagi.

“Sungguh? Berarti kamu bisa menggantikan saya Yan?” Kiai Dhori menyahut takjub.

Tinggalkan Balasan