Meneladan Sikap Tawaduk Kiai Ihsan Jampes

Mbah Moen—sapaan akrab KH Maimoen Zubair—pernah bercerita bahwa abahnya, KH Zubair bin Dahlan bin Warijo, pernah suatu ketika sowan ke ndalem Kiai Ihsan. Sebagaimana lazimnya etika bertamu, Mbah Zubair mengucapkan salam. Kemudian Kiai Ihsan segera menemuinya dan menjawab salam kiai asal Sarang, Rembang itu dengan penuh rasa ḥurmah.

Dalam pertemuan itu, Mbah Zubair mengawali obrolan ringan dengan menggunakan bahasa Arab. Kiai Ihsan lantas hanya menyahutinya dengan ungkapan, “nggeh, nggeh yai..” (iya, iya kiai).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah topik pembahasan mulai melebar ke mana-mana, Kiai Ihsan mengutarakan, “Ngapunten yai, ngagem boso Jawi mawon. Kulo saget mahami kitab, nanging mboten saget ngendikan coro Arab.” (Maaf kiai, menggunakan bahasa Jawa saja. Saya bisa memahami kitab, namun tidak bisa berkomunikasi verbal dengan menggunakan bahasa Arab).

Mendengar jawaban itu, Mbah Zubair masih terus berulang-ulang berbicara menggunakan bahasa Arab. Namun, Kiai Ihsan juga selalu berkali-kali meresponsnya sembari meyakinkan bahwa dirinya memang betul-betul tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Arab.

Fenomena tersebut memberikan kesan kepada kita bahwa Kiai Ihsan adalah figur yang sangat tawaduk. Beliau berupaya menutupi kealimannya dengan dalih ketidak-mengertian. Padahal, jika menelaah secara mendalam salah satu saja dari karyanya, Sirāj al-Ṭālibīn misalnya, maka kita akan dapat menilai bahwa Kiai Ihsan sangatlah mahir berbahasa Arab. Apalagi, karya setebal 1000 halaman lebih itu ditulis tidak kurang dari delepan bulan di tengah kesibukannya sebagai aktivis pesantren dan melayani umat. Semoga kita bisa ngalap berkat dengan meneladan akhlakul karimah Kiai Ihsan. Allahumma Amin.

Tinggalkan Balasan