Dengan pemetaan seperti itu, hasil penelitian Pelletier dapat dibaca seperti ini: tingkat pesaingan dan perebutan pengaruh struktur lokal otoritas keagamaan di Jawa Timur tak sekuat dan seterbuka seperti di Jawa Barat. Sebab, di Jawa Barat, struktur lokal otoritas keagamaan yang terfragmentasi ini ternyata saling berebut pengaruh sedemikian kuatnya. Untuk memenangkan perebutan pengaruh itulah, maka marak digunakan retorika agama yang lebih agresif, yang kemudian menyuburkan radikalisme agama.
Dengan bahasa lain, gerakan radikalisme agama digelorakan untuk memperkuat status, pengaruh, dan kekuatan struktur lokal otoritas keagamaan yang saling bersaing secara kompetetif. Pelletier pun sampai pada kesimpulan, banyaknya kiai kecil menjelaskan perkembangan pesat kelompok militan di Jawa Barat.

Bagaimana fenomena ini dapat mengubah lanskap keagamaan di Nusantara? Akan ada semacam paradoks demokrasi di sini. Dampak lain dari demokrasi, seperti kita tahu, adalah tergerusnya konsentrasi pengaruh pada tokoh-tokoh atau lembaga-lembaga tradisional. Dan “kekuatan partikelir” yang akan bersaing pengaruh. Namun, ketika ini terjadi, terbuka peluang masuknya radikalisme agama yang dibawa oleh gerakan ideologi transnasional.
Karena itu, sebagai rekomendasi dari penelitiannya, Pelletier meminta semua pihak, terutama pemerintah, harus hati-hati dalam menyikapi fenomena ini. Ruang kompetisi perebutan pengaruh antar- struktur lokal otoritas keagamaan harus dibatasi agar mobilisasi radikalisme agama bisa dikendalikan. Karena, ini justru membahayakan bagi masa depan demokrasi di Indonesia.
