Menembus Ruang dan Waktu: Bercermin Pada Literasi al-Ghazali

Imam Ghazali merupakan sosok ilmuwan muslim yang prolifik, bergelar Hujjatul Islam, memiliki banyak karya tulis mulai dari fikih, kalam, tasawuf sampai filsafat. Dengan beragam karya tersebutlah al-Ghazali dikenal oleh masyarakat dunia, tidak hanya muslim tetapi juga nonmuslim. Tidak hanya di Timur Tengah, melainkan juga di dunia Barat dan Timur, salah satunya di negara kita, Indonesia.

Al-Ghazali dikenal di Indonesia tidak hanya pada era sekarang ini, melainkan sudah beberapa ratus tahun yang lalu. Asumsi saya, sejak pertama kali Islam menginjakkan kaki di Nusantara sekitar abad ke-15 sampai 16 M. Kemungkinan besar para pendakwah Timur Tengah yang menyebarkan Islam di Nusantara membawa pemikiran al-Ghazali (juga dengan beberapa karya-karyanya).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pemikiran-pemikirannya tertulis dalam berbagai kitab memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan kaum muslim di Indonesia. Menurut Montgomery Watt dalam dua bukunya Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali (1963) dan The Faith and Practice of al-Ghazali (1967), orang yang paling berpengaruh di Indonesia setelah Nabi saw ialah Imam al-Ghazali. Mungkin juga ada pendapat lain. Namun, realita di Indonesia memang demikian. Pemikiran-pemikiran al-Ghazali telah menembus ruang dan waktu. Sebut saja kitab Ihya’ ‘Ulum al-Din misalnya, yang banyak memberi pengaruh besar dalam bidang tasawuf Islam.

Salah satu pengaruh tersebut dapat dilihat pada diri KH Shalih Darat yang meng-copy paste pemikiran al-Ghazali dalam bidang ilmu tasawuf. Singkatnya, pemikiran tasawuf al-Ghazali ialah dengan mengkombinasikan syariat sebagai jalan menuju hakikat.

Kembali pada KH Shalih Darat, dalam beberapa karya tulisnya, beliau menjadikan pemikiran al-Ghazali sebagai dasar pijakan dalam analisis kajiannya. Sebagai contoh Tafsir Fayd al-Rahman. Dalam tafsir tersebut KH Shalih Darat mendasarkan penafsirannya dengan menjadikan ayat-ayat secara tekstual sebagai penjelasan awal kemudian dilanjutkan dengan penjelasan secara isyari (batin teks). Kedua makna berkolaborasi menjadi satu dalam tafsir tersebut. Teknisnya, KH Shalih Darat menjelaskan makna literal kemudian disusul dengan makna batin teks.

Tinggalkan Balasan