Menemu Humor Gus Dur Tersimpan di Makassar

Atiqoh Fitriyah Bersama KH Sanusi Baco

Sesekali KH Sanusi Baco merenung dan melihat ke arah kami. Kami melihat kerinduan yang cukup dalam terpancar dari matanya. Gus Dur yang candanya menghangatkan setiap pribadi yang resah. Bahkan, dari pengakuan sang Anre Gurutta, belum pernah rasanya beliau menemukan sosok Gus Dur ada pada orang lain. Beberapa humor pun terlontar, membuat kami tertawa kecil, demi menjaga diri agar terlihat sopan.

“Kehadiran kalian mengingatkan saya kepada Gus Dur. Dulu sewaktu saya merenung di kamar,  kebetulan saat itu saya rindu kampung halaman karena sudah berminggu-minggu hidup di kapal,  Gus Dur hadir, bertanya kenapa kok merenung? Saya hanya terdiam dan tersenyum.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hening sebentar, seperti sedang bernostalgia, sang Anre Gurutta menirukan gaya bicara Gus Dur sambil bercerita

“Si, Sanusi, sini saya ceritain tentang si buta dan si bungkuk. Dulu ada si Buta yang bersahabat dengan si Bungkuk. Persahabatan mereka sangat erat. Suatu hari, si Buta bilang ke si Bungkuk bahwa ia ingin minum air kelapa. Karena sayang, si Bungkuk berusaha mengiyakan permintaan si Buta. ‘Ya sudah kamu tunggu dulu ya, biar aku ambilkan kelapanya’. Terdengar satu suara “grubuk”, lalu si Buta bilang “satu”. Tak lama dari itu “Grubuk”, si Buta bilang lagi “dua”. Hingga berkali-kali. Lalu si Bungkuk bertanya.

“Hei Buta, apa yang sedang kau hitung?”

Tinggalkan Balasan