“Keberkahan santri akan terasa setelah lulus dari pesantren”
Dan masih banyak lagi nasihat-nasihat yang tak sempat saya abadikan dalam secarik kertas. Jika saja waktu itu saya kumpulkan kata-kata mutiara itu, mungkin bisa menjadi sebuah buku pedoman hidup. Sayang, waktu itu rasa kantuk mengalahkannya.

Menjadi Pemimpin dari Pemimpin
Beberapa tahun telah berlalu, hingga suatu ketika saya menyelami dunia baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya, dunia pekerjaan. Lingkungan yang benar-benar beda membuat saya harus cepat beradaptasi agar tidak ketinggalan.
Namun, ada satu hal yang tidak saya ubah, yaitu kebiasaan selama di pesantren dulu. Misalnya, puasa senin kamis. Waktu rekan kerja mengetahui saya melakukan puasa senin dan kamis, sontak saya dibilang orang alim. Padahal, mereka tidak mengetahui jika saya sedang menekan bujet di akhir bulan.
Belum lagi, ketika saya dengan berani memimpin salat magrib berjamaah, dengan surat-surat pendek yang biasa dihafalkan di pesantren, membuat mereka segan dan menyangka saya adalah seorang ustaz.
Saya cengengesan dan cukup geli ketika seorang HRD malah cium tangan, entah itu hanya candaan atau keseriusan, yang pasti saya tertawa dalam hati. Lucu dan aneh.
