Menerapkan Tradisi Pesantren di Dunia Corporate

Hingga suatu ketika, telepon berdering dan membuat saya kaget. Panggilan itu berasal dari direktur perusahaan tempat saya bekerja. Awalnya, ia hanya bercerita tentang istrinya yang baru saja melahirkan dan akan mengadakan syukuran di kantor.

Kaget bukan kepalang, tiba-tiba ia menyuruh saya untuk memimpin 40 lebih karyawan dalam acara syukuran tersebut. Tidak ada kesempatan untuk menolak! Acara itu rupanya akan digelar sore itu juga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Beruntung, bacaan-bacaan tahlil dan doa yang sering dilakukan selama di pesantren masih membekas. Namun, ada satu hal yang membuat saya tercengang, tiba-tiba hampir semua karyawan yang telah duduk melingkar itu memberikan saya secarik kertas berisi nama-nama keluarga dan saudaranya yang telah meninggal untuk didoakan.

Sore itu, saya menjadi seorang pemimpin dari pemimpin-pemimpin di perusahaan.

Layaknya seorang ustaz, bingkisan pasca tahlilan tiba-tiba menumpuk di meja kerja. Serta ucapan terima kasih yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam perjalanan pulang, di tengah hiruk piuk kemacetan ibu kota, tiba-tiba pikiran saya bertamasya ke masa lalu. Teringat malam pengajian bersama pak kiai.

Seorang santri ibarat cahaya lilin di dalam lorong gelap. Meski cahayanya kecil, tapi bisa menjadi penerang untuk banyak orang.

Tinggalkan Balasan