Perpustakaan yang nyaman tidak harus memiliki sofa yang besar, pendingin ruangan yang mahal, atau karpet tebal yang empuk. Kalaupun pada akhirnya hal tersebut direalisasikan dengan anggaran dana yang mencukupi, tentu membahagiakan sekali. Terlebih lagi jika bisa ditambahkan sarana komputer—tentunya dalam pengawasan para ustaz—supaya mereka dapat menyalin dan mempublikasikan tulisan secara rutin.
Kedua, penyediaan buku-buku berkualitas. Tidak ada standar pasti mengenai jenis buku apa yang berkualitas. Tetapi, setidaknya kita bisa melihat kecenderungan dan minat para santri terhadap suatu bacaan—kita bisa membuat semacam angket, genre dan judul buku apa yang mereka gemari, sembari mengarahkan selera jenis buku apa yang layak dibaca.

“Layak dibaca” yang saya maksudkan di sini, dapat diartikan sebagai jenis buku apapun—selama tidak mengandung sara maupun pornografi. Semisal, buku tentang pemikiran dan biografi tokoh seperti Gus Dur, Buya Hamka, dan Quraish Shihab. Buku semacam ini penting dimiliki perpustakaan Al-Falah agar menjadi inspirasi santri untuk meniru serta meneladani tokoh-tokoh cendekiawan muslim tersebut.
Buku-buku berkualitas ini tentu akan menjadi penunjang wawasan mereka. Rasa ingin tahu yang besar dapat terpenuhi dengan tuntas. Selain itu, dari sekian banyak buku yang mereka baca, kelak akan menjadi perbendaharaan kata dan pikiran agar mereka mampu menyampaikan beragam ide, gagasan serta hal-hal yang bermanfaat, salah satunya sebagai sarana media dakwah dan syiar agama.
Terlebih dalam dunia akademik kampus di Indonesia. Setiap mahasiswa, suka tidak suka—mau tidak mau, diharuskan memiliki kemampuan membaca, mengkritisi, serta menulis yang mumpuni. Tidak sedikit alumni santri yang beralih menjadi mahasiswa mengalami shock culture, karena tidak mapannya bacaan dan kemampuan menulis mereka, bahkan untuk sekadar parafrase atau mengembangkan paragraf.
Ketiga, menyemarakkan kegiatan mading. Mading menjadi ruang terbuka yang dapat diakses siapa saja serta menjadi penyaluran kreatifitas bagi para santri. Tanpa keberadaan mading, nyaris dapat dipastikan tidak ada geliat kreativitas yang hidup dan tumbuh di lingkungan pesantren. Mading menjadi wadah pertukaran informasi dan wawasan dalam bentuk yang lebih ramah. Peran mading, dalam konteks ini, tidak boleh disepelekan.
Menjaga konsistensi dalam berkarya bukan perkara mudah. Butuh sedikit strategi untuk menarik minat santri menulis dan berkarya, di antaranya memberikan apresiasi kecil-kecilan. Bisa berupa makanan ringan atau gantungan kunci. Ya, sesederhana itu saja. Tentu boleh dengan yang lebih besar. Saya rasa, tidak akan sampai merusak anggaran pesantren. Apresiasi, sekecil apapun, membuat penulis santri merasa dihargai.
Keempat, mengadakan perlombaan dan lokakarya menulis. Perlombaan menulis dapat diadakan secara berkala dalam momen tertentu. Misalnya saja, perhelatan Haflah Sanawiyah, Haul Mualim Muhammad Sani, atau Perayaan HUT Republik Indonesia yang digelar setiap tahunnya di Al-Falah. Perlombaan ini dibagi beberapa kategori: artikel dan esai, cerpen dan puisi, kaligrafi, grafiti, dan komik visual. Hasil karya pemenang dan peserta, selanjutnya dapat dimuat di mading.
