Selain itu, adanya pelatihan atau lokakarya kepenulisan, walau umpama hanya setahun sekali, menjadi hal penting lain yang patut diagendakan. Al-Falah bisa mengundang penulis, jurnalis, maupun sastrawan untuk memberikan materi kepenulisan sesuai bidangnya serta berbagi kiat dan motivasi menulis.
Baik perlombaan maupun lokakarya, kedua-duanya merupakan bentuk komitmen serta perhatian Al- Falah kepada para santri untuk membangun mental sebagai penulis serta mendorong mereka memiliki jiwa kompetitif, saling berunjuk kemampuan terbaik secara sehat dalam bidang tulis-menulis.

Kelima, menginisiasi program asrama penulis. Melihat perkembangan Al-Falah beberapa tahun terakhir, membuat masyarakat luas semakin optimis dan percaya dengan kemajuan pesantren ini di masa yang akan datang. Semua program, berdasarkan peminatan santri, terorganisir dengan sangat baik, mulai dari program Amtsilati, metode cepat membaca kitab kuning. Program asrama bahasa Arab dan Inggris. Begitu pula program hafalan yang cukup menarik perhatian banyak pihak akhir-akhir ini, seperti program asrama tahfiz, hadis, mutun, dan falak.
Seluruh program ini dijalankan secara rutin dan ketat; para santri dikumpulkan dalam satu asrama agar memudahkan jalannya program. Segala bentuk instruksi akan mudah dilaksanakan. Tidak salah jika seluruh program ini diapresiasi dalam bentuk wisuda resmi di setiap tahunnya. Tidak tanggung-tanggung, saking meriahnya, wisuda mereka tak kalah ramainya seperti wisuda pelepasan siswa.
Lantas, mengapa Al-Falah tidak mencoba menyelenggarakan program asrama penulis? Dengan sistem dan sumber daya santri yang ada, saya yakin sekali, program asrama penulis akan sama berhasilnya seperti program lainnya. Seluruh program yang telah saya sebutkan di atas, berorientasi pada pengaderan ulama. Kini, tugas berikutnya adalah bagaimana para calon ulama tersebut dapat berkontribusi lebih luas kepada umat. Menjadikan mereka ulama yang aktif, bukan ulama yang pasif. Dan salah satu jalan mencapai kebermanfaatan tersebut yaitu, menjadikan mereka penulis yang produktif.
Selain itu, melahirkan calon penulis berbakat dalam bidang sastra adalah tujuan lainnya. Kita mafhum, bahwa pesantren dan sastra adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Di Al-Falah sendiri, misalnya, pembacaan burdah, simtuddurar, nazam aqidatul awam, kasidah madah terhadap nabi, merupakan hal yang lazim dan mendarah daging di setiap harinya. Bukankah jika kita hayati dengan seksama dan mendalam, semua teks tersebut berisikan ungkapan-ungkapan indah berupa syair atawa puisi.
Terlebih lagi, mata pelajaran Balagah telah diajarkan kepada santri sedari kelas 3 Tsanawiyah sampai 3 Aliyah. Sebetulnya, Al-Falah telah siap mengader calon sastrawan dan akademisi sastra sejak dini. Hanya, sayangnya tidak ditunjang dengan praktik konkret untuk menuju ke arah sana. Karena itu, program asrama penulis menjadi satu agenda besar untuk dapat direalisasikan bersama.
Saya sadar tidak sepenuhnya bisa menuntaskan catatan ini dengan baik. Catatan ini tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan siapapun. Saya juga membuka ruang diskusi, kritik, dan saran seluas-luasnya. Tiada tujuan lain, selain perhatian kecil serta upaya memikirkan kemaslahatan bersama. Meski belum dapat bersua dengan rekan seangkatan, para alumni, serta guru-guru tercinta, semoga catatan ini dapat menjadi ‘bentuk pertemuan lain’ dan sedikit khidmah saya kepada Al-Falah dari kejauhan.
