Mengambil Mahkota Tuhan

Lihatlah Greta Thunberg, remaja yang mengguncang dunia dengan aksi iklimnya. Atau Malala, yang mempertaruhkan nyawa demi pendidikan. Mereka tak menunggu Tuhan turun tangan—mereka menjadi tangan Tuhan. Bukan karena sombong, tapi karena sadar: mukjizat terbesar Tuhan adalah manusia yang berani bergerak.

Di akhir zaman, nanti, mungkin ada yang bertanya: “Di mana Tuhan ketika ketidakadilan terjadi?” Jawabannya ada dalam diri kita: “Dia ada di sini—dalam langkah kaki para pejuang, dalam pena para penulis, dalam suara mereka yang membela kaum tertindas.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita telah menggugat langit, mengutuk teologi pasif, dan meragukan kitab suci yang dibaca tanpa akal. Kini, tinggal satu pertanyaan: Maukah kita memungut mahkota Tuhan yang jatuh, memakainya dengan rendah hati, lalu berjalan membawa cahaya?

Tuhan mungkin di surga, tapi keadilan harus ditegakkan di bumi—dengan tangan kita. Seperti filosofi jawa, ibu Pertiwi yang merawat bumi yang terluka. Lilin-lilin kecil itu, bila disatukan, bisa membakar kegelapan sampai ke langit.

“Jangan takut menggugat langit—karena langit pun menantimu untuk berpikir. Tapi jangan lupa: langit juga menyimpan bintang-bintang yang akan membimbingmu selama kau berani menyalakan api.”

Sumber ilustrasi: langgar.co

Tinggalkan Balasan