Krisis Otoritas Moral di Era Viral

Heidegger pernah mengemukakan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang lebih dinamis dibandingkan dengan peradaban, maka manusia sebagai pelaku kebudayaan itu sendiri akan berkembang jauh lebih dinamis. Sehingga dalam mengikuti alur kehidupan di era modern kali ini, sangat penting mengetahui posisi dan porsi yang hendak kita ambil.

Kita mungkin menyaksikan satu gejala sosial yang mencemaskan sekaligus menggemaskan di tengah derasnya arus informasi hari ini, yaitu krisis otoritas moral. Suara yang semula dihormati karena integritas dan pengetahuannya, kini kian tergantikan oleh mereka yang viral. Ukuran kewibawaan bukan lagi substansi, tapi seberapa sering dikutip, disukai, dan dibagikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam tradisi berpikir klasik, otoritas moral tidak bisa dilepaskan dari kualitas pribadi seseorang yang meliputi tiga hal: kematangan berpikir, konsistensi bertindak, dan komitmen pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Filsuf Immanuel Kant menegaskan bahwa moralitas sejati lahir dari otonomi rasional manusia, bukan karena tekanan eksternal. Seseorang layak dipercaya karena ia hidup sesuai prinsip etis, bukan karena titel atau jubah yang ia kenakan.

One Reply to “Krisis Otoritas Moral di Era Viral”

Tinggalkan Balasan