Ya, memang wajah dan senyum bisa sedikit mewakili apa sedang seseorang rasakan. Seseorang akan kesulitan untuk menebarkan senyum dan terus-menerus membohongi dirinya sendiri jika yang sedang ia rasakan adalah kegundahan, sedih, atau bahkan marah. Tapi, meskipun jiwa sedang dilanda kesedihan, marah atau pun resah, memilih untuk tetap menebarkan senyum kadang bisa sedikit meredakan perasaan itu semua.
Kusarankan, jika kau merasa kesulitan bahagia, carilah teman atau sanak familimu yang hobi menebarkan senyum dan membuatmu tertawa. Mungkin problem hidupmu tidak akan bisa begitu saja selesai dengan menemui mereka, tapi perlu kau sadari, untuk menyelesaikan masalah engkau perlu energi yang cukup dan jiwa yang penuh semangat. Dan berbincang dengan mereka yang penuh ceria, senyum dan bahagia, sama halnya dengan engkau sedang mengisi baterai jiwamu.

Disebutkan bahwa termasuk akhlak yang mulia adalah seseorang yang ketika malam hari menangis memohon ampun kepada Allah dan selalu ceria dan tersenyum di pagi hari. Memang begitu besar perhatian agama Islam terhadap hal-hal sederhana dalam keseharian umatnya, terlebih hubungan sosial, dan di sini senyum adalah salah satunya.
Sahabat Jarir bin Abdullah ra berkata, “Rasulullah tak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum.” Begitulah, Nabi kita memang terkenal sangat murah senyum, berwajah sumringah, pada siapa pun, tidak terkhusus umat muslim saja. Dari itu, bukankah semestinya kita ikut mencontoh beliau juga?
