Di dunia pendidikan modern, lagu telah lama digunakan sebagai metode. Alphabet song di Barat, video pembelajaran bernada di YouTube, atau jingle-jingle edukatif di TikTok semuanya membuktikan bahwa belajar dengan lagu bukan metode kelas dua. Justru, di zaman yang serba cepat ini, lagu adalah jembatan penting antara ingatan dan makna.
Tapi pesantren sebenarnya tak ketinggalan. Sejak dulu, para ulama menulis kitab dalam bentuk syair, bukan karena ingin puitis semata, tapi karena sadar bahwa irama memudahkan hafalan. Nazam adalah warisan ulama yang memadukan ilmu dan seni suara.

Saya pernah menyaksikan seorang santri membawakan lagu religi di malam perpisahan pondok. Lagu itu bukan hanya nyanyian, tapi seolah doa. Liriknya menyentuh hati, membuat hadirin diam dan menangis. Saat itu saya sadar, lagu bisa menjadi ruang tafakur. Ia menyampaikan rasa yang tak terucap. Kadang, lagu lebih mampu mengajarkan adab daripada seribu nasihat.
Dalam dunia tasawuf, lagu bukan hal asing. Samā’, majelis mendengarkan nyanyian rohani, telah menjadi bagian dari praktik spiritual para sufi. Lagu menjadi jembatan menuju perenungan, bahkan penyucian jiwa. Maka apakah aneh jika kita menggunakannya juga dalam proses pendidikan?
Tentu saja, tidak semua lagu patut masuk ruang pesantren. Lagu yang kita pilih harus bersih dari kata yang melalaikan, nada yang membangkitkan syahwat, atau makna yang merusak iman. Tapi menutup pintu sama sekali hanya karena takut disalahgunakan, bukanlah pilihan yang bijak. Kita perlu selektif, bukan reaktif. Kita perlu panduan, bukan penolakan total.

Saya setuju lagu dan nada itu bagaikan mata pisau. Tergantung bagaimana benda itu diguakan. Jika digunakan untuk kebaikan maka pisau itu berbuah baik, dan demikian sebaliknya. Lagau dan nada bagaikan kita berbicara; mengeluarkan kata-kata. Tergantung bagiaman cara kata/kalimat tersebut digunakan: nasihat, motivasi, cacian, hinaan, cemoohan, dll. Begitulah, demikianlah. Saporana,,,
Betul, Yai. Semoga kita bisa menjaga tradisi bersyair dan bernyanyi di pesantren, sebagai jalan untuk menolak tradisi hari ini dengan lembut. Bukan seperti orang di sebelah yang ujug-ujug mengharamkan. Kita ubah nafasnya saja, seperti Sunan Kalijaga