Mengapa Santri Suka Menyanyi?

Bayangkan jika kitab-kitab akhlak dibuat dalam versi nyanyian, atau hafalan hadis dirapikan dalam format lagu, atau pelajaran nahu dijadikan paduan suara. Bukan untuk menggantikan talaqqi dan halaqah, tapi untuk memperkuatnya. Lagu tidak akan menggantikan guru. Tapi ia bisa menjadi teman yang menuntun santri menghafal dengan gembira, bukan terpaksa.

Di era yang serba cepat ini, anak-anak belajar dari layar lebih sering daripada dari lembaran buku. Lagu menjadi bahasa mereka. Maka pesantren perlu lentur dalam menyambut cara-cara baru, tanpa harus meninggalkan prinsip dan tradisi. Lagu bisa menjadi sarana menjaga makna-makna lama tetap hidup di hati para santri muda.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karena sejatinya, lagu hanyalah wadah. Isinya bisa kosong, bisa bising, tapi bisa juga penuh ilmu dan zikir.

Dan siapa tahu, justru lewat nada-nada yang terdengar remeh itu, Allah sedang menanamkan ilmu yang menetap lebih lama di dalam dada.

2 Replies to “Mengapa Santri Suka Menyanyi?”

  1. Saya setuju lagu dan nada itu bagaikan mata pisau. Tergantung bagaimana benda itu diguakan. Jika digunakan untuk kebaikan maka pisau itu berbuah baik, dan demikian sebaliknya. Lagau dan nada bagaikan kita berbicara; mengeluarkan kata-kata. Tergantung bagiaman cara kata/kalimat tersebut digunakan: nasihat, motivasi, cacian, hinaan, cemoohan, dll. Begitulah, demikianlah. Saporana,,,

Tinggalkan Balasan