Mengenal Karakter Orang Madura

Achmad Barur Rozy, penulis buku yang ada di tangan pembaca ini, ingin merekam jiwa kemaduraan terkait dengan harga diri. Di masyarakat Madura, harga diri — dalam bahasa Madura rasa malu, malo— merupakan karakter diri dengan entitas kesempurnaan untuk harkat dan martabat kesukuan.

Ungkapan, “Lebbi bagus pote tolang katembang pote mata” (hal. vi dan diulang kembali pada hal. 5 dengan narasi sedikit berbeda serta halaman lainnya) artinya adalah lebih baik putih tulang daripada putih mata. Sebuah falsafah kedirian orang Madura, demi mempertahankan harga diri lebih memilih mati berkalang tanah daripada menanggung rasa malu karena harga diri yang dinodai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Demi sebuah harga diri, atau dalam membangun benteng untuk mempertahankan konsep nilai marwah, harkat, dan martabat diperlukan sikap agresivitas yang tuntas. Artinya, penyelesaian persoalan harga diri terkadang harus dibangun di atas pertumpahan darah.

Carok adalah salah satu bentuk pertahanan diri dari nilai harga diri yang dinjak-injak oleh orang lain. Penyelesaian ini sebagai bentuk perlawanan terhadap pengebirian harga diri. Intinya, tidak akan terjadi carok jika tidak ada harga diri (self esteem) yang dinista.

Lebih jauh, Dr Achmad Bahrur Rozy menjelaskan tentang nilai dan budaya Madura. Salah satu ciri khas kemaduraan yang dibahas oleh penulis —yang juga menjadi dosen tetap di STITA Aqidah Usymuni, Sumenep, Madura serta alumni PP Annuqayah— ini adalah tradisi taneyan lanjhang. Sebuah konsep yang bernilai luhur karena bentuk taneyan lanjhang ini mengedepankan kekerabatan dan persaudaraan.

“Pemukiman tradisional Madura, khususnya rumah-rumah tempo dulu, yang dikenal dengan taneyan lanjhang, tidak sekadar bermakna sesuatu yang unik, tetapi juga merupakan ruang masyarakat yang memiliki makna, nilai, dan filosofi yang mencerminkan jari diri kemaduraan.” (hal. 82).

Tinggalkan Balasan