Mengenal Kiai Penulis Tafsir Al-Qur’an (1): Kiai Sholeh Darat dan Tafsir Faidh ar-Raḥmān

Pendidikan pertama Kiai Sholeh Darat diperoleh langsung dari abahnya, Kiai Umar. Sebagai orang kepercayaan Pangeran Diponegoro, Kiai Umar kala itu diberi mandat untuk mengkordinir gerakan jihad di pesisir pantai utara Jawa. Maklum, jika kemudian rumah Kiai Umar dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para kiai untuk berunding mengatur strategi jihad. Kiai Sholeh Darat memanfaatkan momentum itu untuk belajar kepada para kiai yang menjadi teman-teman abahnya. Di antaranya adalah Kiai Hasan Bashari, Kiai Jamsari, Kiai Dardak, dan Kiai Syadak.

Tidak hanya itu, Kiai Sholeh Darat juga belajar banyak ilmu kepada para alim ulama, baik di Jawa maupun di Mekah. Sebut saja di antara gurunya adalah Kiai M Syahid (cucu Kiai Mutamakin, Pati); Kiai Raden Muhammad Salih bin Asnawi, Kudus; Kiai Ishaq Damaran, Semarang; Kiai Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, Semarang; Kiai Abdul Ghani Bima, Semarang; Kiai Ahmad Alim, Purworejo; Syekh Muhammad al-Maqri al-Mishri al-Makki; Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbalah; Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan; Sayyid Muhammad Shalih al-Zawawi al-Makki; Syekh Ahmad an-Nahrawi al-Makki; Syekh Umar as-Syami; dan Syekh Yusuf as-Sanbalawi as-Syami.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Berbekal segudang ilmu yang telah dipelajari dari para guru yang berkompeten, Kiai Sholeh Darat memberanikan diri untuk menyebarkan ilmunya dengan mengajar beberapa tahun di Mekah bersama sahabat seperjuangannya dari Indonesia, yakni Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Mahfudz Termas, Pacitan, dan Syekh Nawawi Banten. Karena saking cintanya pada tanah air, Kiai Sholeh Darat lantas berpamitan kepada sahabatnya untuk kembali ke Indonesia.

Kembalinya Kiai Sholeh Darat di Indonesia sangat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Islam di tanah air. Bahkan, seiring berjalannya waktu, ia diakui sebagai maha guru para kiai di Indonesia. Sebab, banyak santri—yang kemudian menjadi kiai-kiai besar—dari berbagai penjuru di Indonesia yang berguru kepadanya. Di antaranya adalah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan Kiai Idris.

Kiai Sholeh Darat sama sekali tidak ikut andil dalam mengembangkan pesantren yang dirintis abahnya di Jepara. Ia lebih memilih mengabdi mengajar di pesantren Salatiang, Purworejo. Di pesantren ini, Kiai Sholeh Darat mengajar hingga tahun 1870-an.

Selepas itu, ia mendirikan pesantren di kawasan Darat, Semarang, yang dijadikan sebagai sarana untuk mentransfer ilmu pada setiap santri yang berguru kepadanya. Kini Pondok Pesantren Darat hilang tanpa bekas pasca wafatnya Kiai Sholeh Darat. Saat itulah, sejumlah santri yang masih tersisa di sana diboyong semua oleh Kiai Idris dibawa ke Solo untuk menghidupkan kembali pesantren Jamsaren yang didirikan oleh Kiai Jamsari.

Kiai Sholeh Darat wafat pada 28 Ramadhan 1321 H/18 Desember 1903 M di usianya yang ke-83 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Bergota, Semarang.

Tinggalkan Balasan