Pendekatan berdakwah yang digunakan Kiai Bisri besifat lentur dan bertahap. Secara spesifik, pendekatan yang digunakan dalam berdakwah, yaitu; (1) Mengubah pola hidup masyarakat secara bertahap (2) Penyajian dakwah yang bisa menarik minat masyarakat. Model dakwah Kiai Bisri disambut baik masyarakat dan berhasil.
Sebagai pendamping Kiai Bisri, Nyai Hj Nur Khodijah ikut prihatin akan kondisi kaum wanita yang banyak terjerumus dalam perzinaan. Ia pun ikut berdakwah. Dengan ghirrah yang sangat besar terhadap agama Islam, Nyai Hj Nur Khodijah binti Wahab Hasbulloh mencoba ikut berdakwah kepada kaum wanita yang bermukim di Desa Denanyar.

Nyai Hj Nur Khodijah memulai aktivitas berdakwah pada 1919. Kegiatan beliau dilakukan di serambi surau. Pada masa itu, perempuan dinilai tak lazim ikut menuntut ilmu di pesantren. Walaupun demikian, Kiai Bisri dan Nyai Hj Nur Khodijah tetap beristikomah dalam berdakwah kepada kaum perempuan. Pada saat itulah, awal perjuangan emansipasi sosok ibu nyai dan santri perempuan di bidang ilmu keagamaan.
Seiring bertambahnya waktu, pendekatan dakwah Kiai Bisri Syansuri dan Nyai Hj Nur Khodijah semakin diminati masyarakat, khususnya kaum wanita. Mereka mulai terbuka pandangannya. Masyarakat mulai memahami bahwa dalam ajaran Islam kedudukan wanita dimuliakan. Sejak saat itu, Pesantren Mambaul Maarif bukan hanya tempat kaum pria mendalami agama Islam, tetapi juga bagi kaum wanita. Dari situlah cikal bakal lahirnya Pondok Pesantren Putri Mambaul Maarif.
Dalam perjalanannya, pondok pesantren putri yang dirintis Nyai Hj Nur Khodijah terus mengalami perkembangan. Perkembangan-perkembangan terjadi karena untuk menjawab tantangan zaman. Pada awal berdirinya, nama pesantrennya adalah Mabadiul Huda, dan sudah menggunakan sistem pembelajaran madrasah.
Dengan seizin KH Hasyim Asy’ari, beliau pun mendirikan pondok pesantren untuk putri pada 1921. Pada 1923, dibangun Madrasah Ibtidaiyah Mambaul Huda. Pada tahun yang sama, Pondok Pesatren Mambaul Huda berganti nama menjadi Pondok Pesantren Mambaul Maarif. Setelah berganti nama, dibangun Madrasah Tsanawiyah Putra Mambaul Marif untuk melengkapi keilmuan santri. Lalu, Madrasah Tsanawiyah Putri dibangun pada 1928.

Pantas dan pantastis…