Setelah sang ayah wafat, Abuya Uci menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah yang berdiri sejak tahun 1957 itu. Pesantren ini berdiri di atas lahan seluas ± 4,5 hektare. Yang menarik, di lingkungan komplek pesantren ini terdapat empat masjid, tiga masjid berada di dalam pesantren dan satu lagi berada di luar pesantren. Keempat masjid itulah yang menjadi tempat masyarakat umum mengikuti pengajian Abuya Uci.
Yang menarik juga, meskipun telah menjadi salah satu ulama terkemuka di Indonesia, Abuya Uci konsisten menggunakan bahasa Sunda dalam setiap ceramah atau pengajian yang diampunya. Meskipun tetap bahasa Sunda, nyatanya pengajian mingguannya di Pesantren Salafiyah Al-Istiqlaliyah itu kerap dihadiri ulama atau tokoh dari berbagai daerah dan beberapa negara lain seperti Mesir, Yaman, Arab Saudi, India, Irak, dan Maroko.

Kehadiran ulama atau tokoh dari berbagai daerah dan negara itu menunjukkan kebesaran sosok Abuya Uci yang diterima beragam kalangan.

Skrang kan masih 7 April. Salah ketik kah?