Dari jalur ayah, nasab Hasbi bersambung hingga ke Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Karena itu, Hasbi menggunakan nama ash-Shiddieqy di belakang namanya. Ayahnya adalah Teuku Kadi Sri Maharaja Mangkubumi Husein bin Mas’ud. Sementara, ibunnya adalah Teuku Amrah binti Teuku Sri Maharaja Mangkubumi Abdul Aziz.
Sejak belia, Hasbi menempuh pendidikan di berbagai pondok pesantren. Ia mempelajari bahasa Arab dari gurunya yang bernama Syeikh Muhammad ibn Salim al-Kalali. Dari Syeikh al-Kalali, Hasbi juga belajar kitab-kitab kuning seperti nahu, saraf, mantik, tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam. Pada 1926, Hasbi berangkat ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Madrasah al-Irsyad, lembaga pendidikan agama yang didirikan Syeikh Ahmad Soorkati. Di sinilah Habis mengenal pendidikan pemikiran Islam modern. Hasbi juga pernah belajar agama di Timur Tengah.

Hasbi kemudian terjun di dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru di HIS (Hollandsch Inlandshe School/setingkat SD) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs/setingkat SMP) Muhammadiyah. Menjelang kemerdekaan, pada 1940-1942 Habis tercatat menjadi direktur Darul Mu’allimin Muhammadiyah di Kutaraja dan juga membuka Akademi Bahasa Arab. Namun, setelah kemerdekaan, Hasbi pindah ke Yogyakarta. Atas permintaan Menteri Agama Wahid Hasyim saat itu, Hasbi kemudian mengajar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Di lingkungan kampus inilah karier akademik Hasbi terus menanjak hingga memperloleh gelar profesor di bidang hukum Islam (syariah) dan pernah dipercaya menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga. Di masa-masa itulah Hasbi dikenal sebagai pemikir Islam yang sangat produktif. Karya tulisnya mencapai 73 judul buku yang terdiri dari 142 jilid. Sebagian besar berkaitan dengan fikih atau hukum Islam. Namun, ada juga buku-bukunya yang berkaitan dengan tauhid dan lainnya. Tapi, ya itu tadi, yang paling fenomenal adalah Tafsir an-Nur.

Jumatan di Rumah
