MTI Pasai ini didirikan oleh Buya Husin Amin. Sebelum mendirikan MTI, Buya Husin berguru berguru kepada Syeikh Sulaiman Alrasuli di Candung dengan model halaqah. Kelak, halaqah Syeikh Sulaiman ini berganti nama menjadi MTI Candung, terletak di daerah Candung, Kabupaten Agam.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Candung, Buya Husin diminta menjadi guru di salah satu pondok pesantren di Pasia. Namun, pesantren tersebut diketahui memiliki paham yang sedikit berbeda dengan pelajaran yang dipelajari di Candung. Setelah berita ini menyebar, sang guru pun menghampiri ayah Buya Husin, H Muhammad Amin, dan terlibat diskusi yang serius. Dalam perbincangan tersebut, sang guru mengusulkan untuk membangun sekolah sendiri di daerah ini. Usulan itu diterima, dan dari situlah asal mula sekolah MTI Pasia ini didirikan.

MTI Pasia Agam didirikan pada 3 Januari 1937, yang berlokasi di samping Masjid Jami Pasia. Saat itu hanya terdiri 2 lokal dan 1 kantor. Sekarang, bangunan ini sudah menjadi asrama putri. Seiring bergantinya tahun dan zaman, MTI semakin modern. Gedung-gedung dikembangkan menjadi bangunan yang megah. Saat ini, MTI Pasia dengan bangunan baru yang terletak di Jalan Lapangan Pitalo memiliki 16 gedung dan akan terus bertambah.
Memimpin MTI
Buya Awis mulai mengambil alih kepemimpinan pondok pada 1964. Selama 56 tahun mengadi pengasuh, seluruh hidupnya dicurahkan untuk mengembangkan lembaga pendidikan ini. Waktu, tenaga, pikiran, dan harta kekayaannya semua dicurahkan untuk kemajuan Tarbiyah ini. Karena itu, nama Buya Awis begitu lekat dalam sejarah perkembangan MTI.
Meskipun memimpin lembaga pendidikan yang maju pesat, nyatanya Buya Awis sendiri tak pernah menamatkan Sekolah Dasar. Namun, Buya Awis menguasai ilmu pengetahuan yang begitu luas, terutama ilmu agama. Buya Awis lebih memilih meninggalkan bangku SD lantaran lebih tertarik mendalami ilmu agama diajarkan oleh ayahnya. Buya Awis kecil belajar dengan sangat tekun dan keras kepada ayahnya. Ia juga mewarisi karakter ayahnya yang sangat tegas namun dermawan. Dan sejak kecil, cita-citanya memang ingin meneruskan perjuangan ayahnya. Berkat semangat dan keuletannya dalam belajar, Buya Awis dikenal sebagai anak yang cerdas mendahului teman-teman seangkatannya. Bahkan, ketika masih tingkat tsanawiyah, oleh ayahanda Buya Awis sudah diminta untuk mengajar di tingkat aliyah, dan tugas itu dapat ditunaikan dengan baik.
Selama memimpin MTI, Buya Awis menjadi figur sangat disegani oleh banyak orang karena kharismanya. Namun begitu, Buya Awis tergolong orang yang sangat ramah kepada siapa pun. Senang bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja dengan membuat banyak lelucon saat bercerita kepada siapa pun.
