اليوم نختم على افواههم وتكلمنا ايديهم وتشهد ارجلهم بما كانوا يكسبون
Santri sebagai aset berharga dalam memperjuangkan bangsa ini, dalam protret jejaknya memang diakui sangat loyal dan patriotis menjadi penggerak utama dan tameng dari berbagai tantangan dan ancaman memerdekakan bangsa ini. Itu tidak lepas dari penanaman nilai-nilai keislaman yang kuat di pondok pesantren.

Memasuki era baru, post-truth, santri menghadapi tantangan baru yang semakin kuat. Dari sini, kemampuan dan daya survive santri diuji kembali. Akankah entitas satu ini masih bisa lihai bermanuver dengan tetap memegang teguh nilai-nilai keislamannya. Refleksi sederhana berikut mungkin sedikit bisa memberi sepintas gambaran.
Globalisasi membuat mata manusia menjadi lamur terhadap realitas sekitarnya. Globalisasi sebagai proyek dari kapitalisme global memunculkan berbagai dinamika ekstrem beberapa dasawarsa terakhir. Dalam wacana kebudayaan, hal ini diistilahkan oleh Jean Baudrillard sebagai hyper —suatu kondisi atau aktivitas sosial yang melampaui batas wajar dan berkembang ke arah titik ekstrem.
Hiperrealitas merupakan tataran kehidupan yang disadari atau tidak, telah menjangkar hampir di semua lapis kehidupan manusia modern. Segalanya menjadi kabur, berbagai dikotomi lebur.
Berbagai batas-batas konvensional masyarakat yang mapan kini tak lagi imun di hadapan modernitas dan globalisasi.
Ketakcintaan lagi atas kebudayaan sendiri merupakan salah satu akibat dari misi kapitalisme global yang menawarkan berbagai kenikmatan dan kemudahan semu yang justru menjadikan kebudayaan marginal mati. Dekonstruksi gaya hidup dan sosial kemasyarakatan menjadi indikator penting betapa kebudayaan yang heterogen, jangankan berkembang, ia berada di titik nadir di bawah cengkraman proyek homogenisasi kebudayaan oleh kapitalisme global yang terstruktur dan terencana.
Rekonstruksi Realitas
