Menggali Inspirasi dari Tafsir At Tabari

Maka menjadi syarat dalam membukukan karya adalah mempunyai niat yang serius dan usaha maksimal pada karya tersebut. Yang nantinya menjadi harapan, karya tersebut akan tetap abadi dan menyelesaikan persoalan di sepanjang zamannya.

Kebahasaan Tafsir At Thabary

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tafsir Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an juga mengandung keistimewaan lain berupa lengkapnya isnad, yaitu silsilah periwayatan. Meskipun, di satu sisi, isnad-isnad yang dicantumkan oleh At Thabari sering dipertanyakan oleh kaum intelektual.

Misalnya dari sisi kehati-hatian, At Tabari dinilai kurang hati-hati dalam menerima isnad yang berasal dari tradisi dan kaum nonmuslim. Hal ini dapat dilihat dari nihilnya pencantuman latar belakang dan kapasitas isnad itu sendiri, sehingga dapat memunculkan kebingungan. Lebih sering, At Tabari mendiamkan isnad tersebut tanpa melakukan penjelasan.

At Tabari menganggap bahwa kalangan akademisi tidak akan terjebak dengan sistem periwayatan demikian. Kalangan akademisi sudah dilatih untuk berpikir mendalam, sehingga dirinya mampu menggali unsur-unsur periwayatan secara mandiri dan terstruktur.

At Tabari menganggap seorang pembelajar sebagai satu kesatuan dari ilmu. Sehingga di mana pun tempatnya, dirinya akan terbiasa untuk belajar dan berpikir mendalam akan semua hal. Sehingga At Tabari menganggap persoalan telaah isnad menjadi masalah kecil, dan mampu diselesaikan sendiri oleh pembaca, sekaligus pembaca dapat menyelami latar belakang dari tiap tokoh yang telah melakukan periwayatan.

Akan tetapi, akan terjadi masalah apabila pembaca berasal dari kaum awam; akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami hal tersebut. Sehingga orang awam perlu ditunjukkan sumber-sumber lain yang merujuk pada isnad yang berasal dari non-Islam. Orang yang baru belajar mengenai periwayatan, memerlukan sosok pendamping seperti guru sehingga tidak tersesat dalam menapaki setiap alur periwayatan yang ada.

Tinggalkan Balasan