Mengintip Dunia Kepenulisan Santri Madura

“Keseharian dari kegiatan kita tidak lepas dari sastra. Dari kegiatan keagaaman, sosial kemasyarakatan, hingga diskusi dan dialog tentang kesastraan,” Raedu menjelaskan. Kewajiban kita, para penulis muda, adalah mendekatkan (kembali) sastra dengan masyarakatnya.

Di bagian lain presentasinya, Raedu Basha menyinggung relasi sastra dengan politisi. Mengutip sastrawan Abdul Hadi WM, Raedu Basha mengingkatkan kembali bahwa politisi dan sastrawan memiliki kesamaan: sama-sama berjuang untuk memanusiakan manusia. Menjadikan manusia seutuhnya, menurut konstitusi negara.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hanya, politisi membangun sinergitas dengan masyarakat, berhubungan langsung dengan banyak orang, sementara sastrawan berjuang dalam kesunyian. Memantau dari jauh tata kehidupan masyarakat kemudian dibangun atas teks-teks susastra. Sedangkan, tujuan akhir dari keduanya (politisi dan sastrawan) adalah sama, yaitu membangun kesadaran manusia untuk berperilaku sebagai manusia yang; khairukum ‘anfa’uhum linnas, sebaik-baik kalian adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

Dalam acara Sastra dan Dunia Kepenulisan ini diformat dengan diskusi santai. Terjadi dialogis dua arah, antara penyaji (Raedu Basha) dengan audien (peserta). Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan kedekatan sehingga problematika kepenulisan serta materi yang disampaikan dapat dicerna dengan baik dan diaplikasikan dalam dunia kehidupan.

Seorang peserta, de Vawzi (dari komunitas sastra Jala dan Isyarat Gelombang), memberikan pandangan bahwa seharusnya terjadi kesalingan (saling memberikan kesejukan dalam bersosial) antara satu aspek sastra dengan aspek sastra lainnya. Bukan seperti yang terjadi di daerah Sampang, di mana seorang murid (seni silat) membunuh gurunya (dari seni musik) hanya karena persoalan yang sepele. Hal ini perlu perhatian, meskipun tidak dapat dijadikan kaidah hukum bahwa antara sastra yang satu dengan sastra lainnya terjadi gesekan yang tidak sehat. Hal ini terjadi karena karakter personal yang tidak ada kaitannya dengan kesastraan.

Kemudian, penulis yang pernah belajar di Pesantren Annuqayah ini menjelaskan bahwa tulisan lebih penting daripada lisan. “Sastra yang ditulis lebih memiliki kelebihan daripada sastra yang diucapkan,” begitu menurut Raedu Basha yang sekarang berdomisili di Pesantren Darussalam, Ganding, Sumenep.

Sastrawan yang memiliki penerbit Ganding Pustaka ini juga menjelaskan bahwa sastra adalah teknologi kepesonaan. Artinya, dengan (ber)sastra kita harus membangun dunia dengan keindahan. Membentuk erika diri dengan pesona kearifan serta membangun bangsa dan negara dengan keadilan yang dapat dirasakan oleh semua kalangan.

Tinggalkan Balasan