Mengonsumsi Konotasi, Mengonsumsi Kepalsuan

Kategori kedua adalah daging-daging yang edible. Daging yang masuk di kategori ini, mostly adalah daging hewan ternak seperti ayam, babi, dan sapi. Di antara ketiga hewan tersebut, sapi menempati strata tertinggi dalam dunia perdagingan. Lebih jauh lagi, di dalam daging sapi, terdapat klasifikasi yang lebih njelimet. Bagian daging tertentu hanya diperuntukkan untuk kalangan kaya-Borjuis saja.

Sehingga, walaupun toh daging sapi melimpah, harga daging bagian tertentu tersebut tetap saja mahal. Padahal, apabila dilihat dari nilai nutrisi yang dikandung, daging tersebut tidak berbeda jauh dengan daging bagian lain. Namun, sekali lagi permainan makna simbolis membuat harga daging bagian tertentu tersebut mahal dan tidak bisa digapai orang-orang “kimsin”. Bagian tersebut sering kali dimasak menjadi steak. Sehingga steak secara konotasi bermakna kelas sosial dan eksklusivitas. Teruntuk orang-orang miskin, mereka hanya “berhak” memakan bagian lain yang lebih rendah dari sapi, seperti jeroan, isi perut, dan sejenisnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari penyelidikan tersebut, Sahlins menemukan fakta bahwa kaum-kaum borjuis berusaha memegang kendali atas aturan-aturan yang berlaku di masyarakat, termasuk dalam makanan. Ada struktur sosial yang ingin dipertahankan di sana. Ada kelas-kelas yang sengaja di-uri-uri agar tidak mati. Hal tersebut dilakukan dengan cara memasukkan makna dalam simbol makanan. Itulah mengapa harga steak selalu mahal. Itulah mengapa table manner harus dikuasai untuk makan steak. Itulah mengapa dengan mengonsumsi steak, secara ilusif membuat kita menjadi bagian orang ekseklusif.

***

Kasus-kasus seperti ini sebenarnya tersebar di banyak aspek kehidupan kita saat ini. Banyak sekali makanan, pakaian, aksesoris yang berharga “tidak normal”. Tas, sepatu, dan makanan yang berharga selangit, yang sebenarnya secara fungsi sama saja dengan yang berharga rendah; sengaja diciptakan untuk menegaskan perbedaan kelas. Barang tersebut diadakan sebagai pembeda antara si pemakai dan orang kebanyakan.

Sayangnya, seringkali kita terjebak hal semu semacam itu. Kita, demi memberi makan gengsi, rela membeli barang-barang mahal tersebut. Mengonsumsi sesuatu hanya karena ingin terlihat keren, dan mendapat social acceptance yang palsu. Kita bersusah payah mengenyangkan ilusi yang nyatanya tidak akan pernah kenyang. Singkatnya, kita  sering kali terjebak dalam pola “konsumsi konotasi”.

Tinggalkan Balasan