Baik, mari kembali ke perbincangan awal soal “Mengonsumsi Konotasi” tadi. Sebenarnya, hampir semua objek di masyarakat memiliki konotasinya sendiri. Konotasi sengaja dikonstruksi untuk berbagai fungsi. Agar lebih jelas, mari kita bahas tentang kopi lagi. Kopi, di kalangan grassroot biasa disuguhkan untuk menyambut tamu, perekat sosial dan penegas komunalitas. Namun, untuk kalangan tertentu, kopi tidak sesederhana itu. Kopi juga berarti eksklusivitas.
Di kafe-kafe tertentu yang disetting sedemikian rupa, yang dilengkapi dengan alunan musik jazz, lampu-lampu sendu, dan aroma ruangan yang memanjakan indra penciuman, kopi menjelma barang ekseklusif yang membuat kantung sobat “misqueen” menjerit. Kopi dengan nama-nama yang sulit diucapkan, bertransformasi dari sekadar minuman menjadi sebuah simbol penanda kelas.

Karena fungsinya yang sudah berubah, cara menikmati secangkir kopi pun ikut berubah. Misalnya, walaupun toh kita mempunyai uang yang cukup untuk membeli secangkir kopi di kedai-kedai ekseklusif tersebut, nyatanya, kita harus tetap mempersiapkan hal lain sebelum bisa meneguk kopi itu. Kita harus, misalnya, mengenakan pakaian yang “layak” untuk masuk kafe, laptop merek tertentu, hingga bahan obrolan atau bahasa standar yang seolah-olah menjadi prasyarat turunan untuk bisa menikmati secangkir kopi di tempat itu.
Tentu sah-sah saja semisal kita dengan cuek ingin mendobrak pakem-pakem tak tertulis tersebut. Misalnya, datang ke kafe-kafe itu dengan memakai sarung, kaus compang-camping, muka kumal, atau membayar dengan uang receh. Kita tetap saja bisa menikmati kopi di sana. Akan tetapi, kita akan merasa asing, merasa tidak setara dengan yang lain. Kita merasa termarginalkan karena tidak memenuhi prasarat turunan untuk menikmati kopi di sana. Pada gilirannya, kita mengalami apa yang disebut aleniasi.
Terkait tentang bagaimana makanan bertransformasi menjadi sebuah simbol kelas tertentu sebenarnya telah dibongkar oleh seorang antropolog Amerika. Sahlins, dalam tulisannya yang berjudul Food as Symbolic Code (1990), membongkar struktur tersembunyi yang ada di balik makanan steak.
Mulanya, ia mengklasifikasikan makanan di Amerika menjadi dua katagori, yaitu edible dan inedible. Kelompok hewan yang inedible adalah anjing, kucing, dan kuda. Masyarakat Amerika menganggap anjing sebagai kerabat mereka. Sementara itu, kuda adalah hewan tunggangan yang berjasa dan patut mendapatkan kasih sayang. Oleh karenanya, saat imbauan untuk makan daging kuda beredar (saat Amerika mengalami krisis daging sapi), gelombang protes merebak di seantero Amerika. Orang Amerika menganggap bahwa melahap daging kuda adalah perbuatan yang tabu.
